Penjual Peyek

Malam itu sedang asyiknya makan malam di salah satu warung pojokan Sudirman Pekanbaru, beberapa saat setelah pesan makan dan minum. Mata ini tertuju pada salah satu bapak-bapak yang tiba-tiba hadir di warung tersebut, bapak itu bukan seorang penikmat kuliner tapi seorang penjaja Peyek. Berjualan keliling dari warung ke warung di pundaknya bertengger toples besar transparan berisikan peyek yang pada saat itu sudah setengah terisi yang berarti menandakan bahwa dagangannya cukup laku. Langkah gontai dan kulit lusuh mensiratkan bahwa tubuhnya sudah sekian lama diajak berkeliling-keliling kota.

Tertarik oleh tumpukan peyek yang ada dalam toples itu, kusiapkan selembar uang limaribuan, cukup lusuh tapi masih laku untuk transaksi jual beli. “Dapat lima” pikirku sebelum menghampiri Bapak penjual peyek. Bangkit dari dudukku menghampirinya kusapa sekaligus bertanya,

“satunya berapa pak?”,  tanyaku.

“Dua Ribu”, jawab bapak itu dengan tegas.

Setdahhh… koh mahal ya? Biasanya sih seribu rupiah. Akhirnya kuraih dompet dan kucatut tambahan uang seribu rupiah. “Beli tiga, Pak” sambil kusodorkan uang enam ribu rupiah. Setelah kembali ke tempat duduk ku, baru ku amati bapak penjual peyek yang silih berganti didatangi konsumen.

Hasil pengamatan:

  1. Harga cukup mahal, standarnya peyek dengan rasa dan bentuk seperti itu dijual seribu rupiah.
  2. Bapak itu harus berkeliling dari warung ke warung jalan kaki.

Sedikit menyimpulkan Mungkin bapak itu menjual dengan harga yang lebih mahal karena dia harus membawa peyek tersebut, berjalan dari warung ke warung bukanlah urusan yang mudah. Badan capek belum lagi harus menawarkan kepada calon pembeli. Bahkan keesokan harinya saya masih melihat bapak itu keliling menjajakan peyeknya dimana artinya fulltime jualan dari pagi sampai malem keliling door to door nawarin peyek.

Dari kejadian itu saya melihat sebuah ketidak efektifan dalam berjualan, dalam pandangan saya akan lebih bagus bila memiliki beberapa toples berisi peyek yang nantinya dititipkan di warung-warung. Pagi diantar, sore diambil sekaligus di rekap hasil penjualannya. Dengan resiko berbagi keuntungan dengan warung yang dititipi, yang artinya ada kemungkinan penghasilan menurun. Tetapi  bisa diantisipasi dengan menambah jumlah warung yang dititip.

AHHHH… tapi paragraf diatas kan cuman lamunanku, lamunan karena terlalu banyak baca buku pengusaha sukses, tapi tanpa pernah mempraktekkannya. Diluar bagaimana cara berjualannya saya salut sama bapak itu yang sanggup  berkeliling kota untuk mencari nafkah, mungkin bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk keluarganya. Memiliki modal keberanian untuk berdagang seperti itu patut diacungi jempol, berbeda dengan saya yang sampai sai ini masih saja berkutat sebagai Karyawan.

Bagaimana dengan anda?

 

19 thoughts on “Penjual Peyek

  1. Akhmad Muhaimin Azzet

    Barangkali ia berkeyakinan bahwa setiap langkahnya adalah perjuangan, maka akan ada balasan dalam bentuk lakunya jualan. Hmmm…, peyek…. aku suka.

    Kebetulan waktu itu saya beli dan memang beneran enak kok pak :)

    Reply
    1. Afan Rida Post author

      Sebenernya lebih keras daripada kerja kantoran, namun banyak yg menilai hanya pada saat suksesnya dan biasanya suksesnya itu yang dijal sama motivator bisnis :)

      Reply
  2. Bung Iwan

    ya kan bapak itu kalkulasinya beda, mas. mbok coba para bapak2 krupuk itu dikumpulkan dari diberi pengarahan ttentang manajemen sirkulasi. hehehe…
    tapi saya ngga kepikiran sampe situ. berarti mas ini orangnya sangat peduli sesama! wow!

    Reply
    1. Afan Rida Post author

      salut aja mas berani ider jualan .. itukan modal buat jadi pengusaha :)

      *di jaman sekarang ini peduli beda tipis sama kepo.. bisa jadi saya yang ke dua hehehe

      Reply
  3. rawins

    dimana mana jualan asongan kaya gitu cedenrung lebih mahal daripada penjual retail besar yang mengambil keuntungan dari kuantiti. kebanyakan pengasong itu bukan bikin sendiri. mereka hanya jualan saja dan ambil barang ke orang lain.

    angka untuk menentukan nilai keuntungan seringkali dihitung dari pendapatan harian dibandingkan dengan omsetnya. capek dll kayaknya jarang deh diperhitungkan.

    *pengalaman pribadi waktu jadi pedagang kolor asongan

    Reply
  4. zachflazz

    kalo karyawan, apalagi dengan gaji yang terpantau (haha) seperti saya, memang harus nyambi di luar. apalagi kalo bukan dagang. saya sudah merintisnya Mas. asyik pokoknya.

    Reply
  5. nh18

    Urusan berniaga …?
    berniaga peyek sekalipun … memang kadang kala tidak semudah teori buku …
    yang jelas … betul kata Mas Afan … kita harus salut akan keberanian dan kegigihan Bapak itu dalam berjualan peyek ..

    salam saya Mas Afan

    Reply
    1. Afan Rida Post author

      Saya yakin karena bapak itu belum baca buku mengenai investasi, juga belum bertemu x-traordinary trainer seperti bapak :)
      salam kembali pak

      Reply
  6. Ucha

    Yang penting dimulai aja dulu. Hahaha.. ngomong sih gampang yah? padahal saya sendiri belum memulai.

    Reply

Tinggalkan Balasan