Tag Archives: peyek

Mendem

Mendem, sebuah kata dalam bahasa jawa yang bila diartikan dalam bahasa indonesia bisa berarti “Mabuk”

sedangkan mabuk selama ini selalu identik dengan minum minuman beralkohol hingga lupa diri,

padahal mabuk atau mendem itu luas artinya. diambil dari kamus bahasa indonesia mabuk memiliki arti sebagai berikut :

ma.buk
[a] (1) berasa pening atau hilang kesadaran (krn terlalu banyak minum minuman keras, makan gadung, dsb); (2) berbuat di luar kesadaran; lupa diri: rupa-rupanya dia sudah — , tergoda rayuan sehingga lupa bahwa dia sudah berkeluarga; (3) ki sangat gemar (suka): dia sedang — berhias; (4) ki tergila-gila; sangat berahi: bentuk wajah yg mungil dng sinar mata yg lembut itulah yg membuat aku — kepadanya

Seperti yang saya rasakan saat ini:
  • Mual
  • Kepala Pusing
  • Badan pegel-pegel
  • Tengkuk berat :)
Dan itu semua tidak disebabkan karena minuman beralkohol, tapi karena kebanyaken Peyek Welut alias Peyek Belut.
Demikian Sekilas info ini dilaporkan dari hati yang paling dalam.
Selamat Siang dan Salam Kolesterol…..

Penjual Peyek

Malam itu sedang asyiknya makan malam di salah satu warung pojokan Sudirman Pekanbaru, beberapa saat setelah pesan makan dan minum. Mata ini tertuju pada salah satu bapak-bapak yang tiba-tiba hadir di warung tersebut, bapak itu bukan seorang penikmat kuliner tapi seorang penjaja Peyek. Berjualan keliling dari warung ke warung di pundaknya bertengger toples besar transparan berisikan peyek yang pada saat itu sudah setengah terisi yang berarti menandakan bahwa dagangannya cukup laku. Langkah gontai dan kulit lusuh mensiratkan bahwa tubuhnya sudah sekian lama diajak berkeliling-keliling kota.

Tertarik oleh tumpukan peyek yang ada dalam toples itu, kusiapkan selembar uang limaribuan, cukup lusuh tapi masih laku untuk transaksi jual beli. “Dapat lima” pikirku sebelum menghampiri Bapak penjual peyek. Bangkit dari dudukku menghampirinya kusapa sekaligus bertanya,

“satunya berapa pak?”,  tanyaku.

“Dua Ribu”, jawab bapak itu dengan tegas.

Setdahhh… koh mahal ya? Biasanya sih seribu rupiah. Akhirnya kuraih dompet dan kucatut tambahan uang seribu rupiah. “Beli tiga, Pak” sambil kusodorkan uang enam ribu rupiah. Setelah kembali ke tempat duduk ku, baru ku amati bapak penjual peyek yang silih berganti didatangi konsumen.

Hasil pengamatan:

  1. Harga cukup mahal, standarnya peyek dengan rasa dan bentuk seperti itu dijual seribu rupiah.
  2. Bapak itu harus berkeliling dari warung ke warung jalan kaki.

Sedikit menyimpulkan Mungkin bapak itu menjual dengan harga yang lebih mahal karena dia harus membawa peyek tersebut, berjalan dari warung ke warung bukanlah urusan yang mudah. Badan capek belum lagi harus menawarkan kepada calon pembeli. Bahkan keesokan harinya saya masih melihat bapak itu keliling menjajakan peyeknya dimana artinya fulltime jualan dari pagi sampai malem keliling door to door nawarin peyek.

Dari kejadian itu saya melihat sebuah ketidak efektifan dalam berjualan, dalam pandangan saya akan lebih bagus bila memiliki beberapa toples berisi peyek yang nantinya dititipkan di warung-warung. Pagi diantar, sore diambil sekaligus di rekap hasil penjualannya. Dengan resiko berbagi keuntungan dengan warung yang dititipi, yang artinya ada kemungkinan penghasilan menurun. Tetapi  bisa diantisipasi dengan menambah jumlah warung yang dititip.

AHHHH… tapi paragraf diatas kan cuman lamunanku, lamunan karena terlalu banyak baca buku pengusaha sukses, tapi tanpa pernah mempraktekkannya. Diluar bagaimana cara berjualannya saya salut sama bapak itu yang sanggup  berkeliling kota untuk mencari nafkah, mungkin bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk keluarganya. Memiliki modal keberanian untuk berdagang seperti itu patut diacungi jempol, berbeda dengan saya yang sampai sai ini masih saja berkutat sebagai Karyawan.

Bagaimana dengan anda?