Tag Archives: lebaran

Lebaran

Tahun 2009 seminggu sebelum puasa tercatat kaki ini melangkah meninggalkan jogja tercinta, demi meraih cita.

Duri, riau. Menjadi kota persinggahan, bukan lagi jakarta seperti yang ibu ku inginkan. Namun aku mencoba sebuah peruntungan di kota minyak ini sekaligus mendekatkan diri kepada keluarga dari perempuan yang sekarang ini telah resmi menjadi istriku. 

Terhitung sampai dengan tahun 2013 ini sudah 5 kali melewatkan lebaran di jogja. Angka itu sudah melebihi angka keramat bang toyib. Tapi sampai detik ini pun belum ada yang menyebutku dengan bang toyib.

Lebaran di jogja bersama keluarga bukan sebuah lebaran dengan kemewahan namun cukup dengan suasana yang sederhana. Bahkan tak sekalipun pernah mengikuti takbir keliling yang didakan di seantero kota jogja. Karena memang kondisi rumah yang cukup jauh dari kota jogja, beruntung di desa tempat saya tinggal masi diadakan takbir keliling kampung. Cukup dengan berkumpul dengan keluarga dan menikmati takbir keliling membuat hati terasa tenang.

 Masakan

Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan seorang Ibu menjadi hal yang istimewa dimata anak2nya. Terlebih ibuku yang terlahir dengan nama suparmi, namun kenapa di KTP nya merubah jadi mamik suparmi yaa…

Bagiku memang tak ada masakan lebaran ditempat lain seenak yang ibuku buat (maksudnya di tempat lain sudah enak namun tetap tak bisa menandingi masakan beliau). Ada beberapa masakan favorit yang tanpa kami minta namun secara otomatis beliau masak. Memang di rumah kami tidak pernah ada yang namanya ketupat atau bahkan lontong sekalipun. Namun bagi kami anak2nya bukan ketupat yang kami inginkan tapi maskan ibu yang berupa cap jaeeeekkk. Mungkin aslinya namanya cap cay, tapi kalau di jawa yang seperti ini sebutanyya cap jaek (terdengar ndeso memang, tapi tak apalah, aku tetap bangga). Cap cay yang dijual biasanya banyak berupa sayuran mulai sawi, kol, kembang kol, wortel dll. Sedangkan bikinan beliau tidak seperti itu tapi banyak tepung goreng yang diiris dan sayurnya sedikit, makanya kami menyebutnya cap jaek ndeso.

Masakan kedua nya adalah sambel goreng ati, bukan karena ati sapinya yang menarik nafsu makan, namun krecek atau jangek nya begitu mempesona. Masakan yang berwarna merah sekilas menantang pedasnya tapi ternyata  gak pedas. Maklum gak doyan pedas.

Memang seperti yang sudah saya katakan diatas, kami tak butuh ketupat, kami tak butuh lontong, tapi pliss beri kami cap jaek dan sambel goreng ati (itu kata hati kami) sepertinya cap jaek dan sambel goreng ati sudah menjadi jiwa raga kami

 Sedih

Kalau tak salah ingat medio lebaran 2006, beberapa saat sebelum puasa ibu mengeluhkan sakit di bagian kaki. Periksa secara medis dapat diagnosa pengapuran pada sendi, memang pada waktu itu keluhan sakit berasal dari lutut beliau. Seiring waktu, sakitnya menjalar ke hampir seluruh bagian kaki bahkan untuk duduk di kursi roda pun tak mampu lagi. Hanya rebahan di kasur, sesekali untuk ke kamar mandi harus di papah pelan.

Bukan waktu yang singkat, beberapa cara untuk mengobati mulai dari spesialis syaraf, tabib hingga terapi pijat namun juga belum ada tanda-tanda menuju sembuh.

Bulan puasa tiba, tahun-tahun sebelumnya ibu selalu membuat masakan pada H-1 menjelang puasa berbagai macam bentuk hingga bisa di gunakan untuk tiga hari kedepan. .namun tahun itu, dengan kondisi yang ada, harus terima apa adanya karena juga fokus dengan kesembuhan ibu.

Sebulan ramadhan juga belum ada tanda pemulihan kesehatan, hingga saatnya lebaran tiba. Aku hanya diam, tak bisa lagi berkata bahkan meminta apapun, pakaian baru atau uang saku, aku hanya ingin ibu sembuh. Tapi kakak-kakak ku masih menyayangiku, sebagai anak ragil alias bungsu masih juga dibelikan baju plus angpao. Bahkan kakak membuatkan cap jaek di hari lebaran. Meski jarak rumah dengan lapangan hanya seratus meter, tetap ibu kubawa pakai mobil dan kursi roda, selesai sholat sebentar mendengar khotbah ibu sudah meminta untuk pulang karena sudah terasa sakit.

Satelah itu semua berkumpul, saya dan kakak-kakak dipimpin oleh bapak semua sama-sama minta maaf halal bihalal. Kamar yang tak begitu lebar itu membawa aura keharuan, dan kesedihan yang mendalam dengan kondisi ibu yang masi terbaring sakit. Air mata ini tak terasa sudah meleleh membasahi pipi, tak sebentar sampai beberapa saat saya masih merasakan air mata ini mengalir begitu derasnya.  AKU TAK BISA MENAHANNYA BAHKAN SAMPAI SAAT INI DAN DETIK INI.. perasaaan itu masih saja lekat #sedih

 Beberapa bulan setelah itu, dengan tingginya harapan ibu pulih dan sehat kembali. Hingga nyata akhirnya berangsur pulih, mulai bisa duduk dan alhamdulillah hingga benar-benar pulih.

Dan bahkan beberapa tahun kemudian masih bisa menyaksikan pernikahanku yang diselenggarakan cukup jauh lintas pulau.

Alhamdulillah, ucap syukurku kepada ALLAH SWT, atas segala rahmat dan hidayah nya. terbentang jarak yang jauh. Doaku untuk kedua orang tuaku dan keluargaku semoga selalu diberi nikmat iman, nikmat kesehatan dan limpahan rahmat serta perlindungan dari Allah SWT. aminn..