Tag Archives: jogja

Mendadak Mudik

Akhirnya bisa menyentuh kembali blog ini, setelah beberapa hari ditinggalkan karena perjalanan mendadak ke pulau seberang. Mendapat berita lelayu atas kepergian sepupu istri “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” yang ada di Surabaya mengharuskan untuk menjelajah “separuh Indonesia” untuk ta’ziah mewakili orang tua yang tidak bisa datang karena suatu hal sekaligus bertemu dengan keluarga di Surabaya yang belum pernah jumpa setelah menikah Januari 2013 lalu.

Meskipun lahir dan besar di Jogja tak serta merta semua daerah di pulau jawa telah ku kunjungi, minimnya keluarga yang merantau ke Jawa Timur turut menggaris bawahi ketiadaan trip ke Kota besar di Jawa Timur ini. Kalau tak salah ingat ini perjalanan pertama saya mengunjungi kota Pahlawan dan bertepatan pada hari kemerdekaan.  Perjalanan yang mengharuskan transit seperti ini cukup memakan waktu lama, memang sayang tidak ada penerbangan yang langsung menuju kota tujuan, semua harus transit di Jakarta atau Batam. Pilihannya jatuh ke Jakarta dan mencari waktu yang paling cepat tiba di Surabaya. Tiba di rumah duka ba’da dhuhur, ternyata jenazah sudah dikebumikan malam sebelumnya.

Setelah acara tahlilan (malam) kami pamit menuju hotel untuk beristirahat, hotel yang kami pesan ada di sekitaran Stasiun Gubeng karena tujuan hari berikutnya kami rencanakan ke Jogja menggunakan moda kereta api. Sampai hotel sebelum tidur perut terasa lapar, lihat menu di hotel kok mahal-mahal banget lalu berinisiatif untuk mencari makan keluar hotel  (padahal sewaktu acara tahlilan juga udah makan rawon hehe) berjalan menyusuri trotoar sempat melirik warung makan yang ada dipojok gubeng lama dari luar nampak seperti warung kopi biasa dengan banyak mobil dan motor yang parkir semula menilai seperti tempat parkir, awalnya tak memperdulikan keberadaan warung ini dan terus saja menyusuri trotoar ke arah utara (kalau tak salah) tetapi semakin lama kok malah semakin sepi, tak ada tanda-tanda adanya warung makan, akhirnya balik lagi dan kembali melihat warung tersebut. Nampak dari luar papan daftar menu meskipun kecil tetapi jelas terbaca “Warung Sederhana”, saatnya mencoba kuliner Surabaya, dan menurut saya warung ini memiliki menu yang enak-enak dan harga yang terjangkau.

Kesokan hari setelah sarapan dari hotel langsung ke St. Gubeng nuker tiket yang udah dibeli sehari sebelumnya sambil merubah jadwal keberangkatan, pilih jadwal yang lebih awal biar nggak kemaleman sampai di Jogja. Setelah selesai urusan tiket Kereta Api, balik lagi ke hotel, jarak yang tanggung dari stasiun ke hotel membuat pilihan naik becak. Dan sialnya becak Surabaya mini-mini sekali, alhasil pulangnya saya cuman bisa nongkrong jongkok di atas becak, karena gak cukup tempat duduknya buat berdua. Maklum seperti gajah duduk bahkan saat melewati rel kerata api tukang becak sempat bilang “Nyuwun pangapunten mas, mandhap rumiyin nggih amargi mboten kiat” (Maaf, masnya turun dulu ya karena nggak kuat) . banyak orang yang nokrong di pinggir jalan yang melihat dan tersenyum melihat kami hahahahaha…..


JW Lounge Soetta

Sore harinya setelah pamitan ke keluarga langsung berangkat ke stasiun Gubeng, lumayan nunggu sejam di stasiun bisa dimanfaatkan untuk makan siang plus sore, stasiun gubeng menurutku cukup bersih ditambah hari itu ada pengamen di dalam area waiting room stasiun namun bukan sembarang pengamen, tiga orang pengamen melengkapi diri dengan gitar bas + melodi + Drum komplit dengan amplifier plus mikropon. Lagu-lagu yang dibawakan lagu lama macam koes plus, panbers dll. Bagus, dan saya rasa pengamen yang seperti ini memang yang benar-benar menghibur dan tak membuat kekacauan. Banyak yang menunggu sambil menikmati alunan lagu yang didendangkan, kenapa saya tau banyak yang menikmati ?? karena gestur kepalanya sambil manggut-manggut :)

Perjalanan dengan kereta api, saya selalu menikmati naik kereta api. Entah apa masalahnya, apakah karena 14 tahun hidup di sekitar Stasiun Sentolo? ah mungkin juga tidak, yang jelasnya suara pergantian/sela2 rel itu selalu membawa aura tersendiri (jegleng jegleng gitu suaranya) dan juga decit rem saat mampir di stasiun yang dilewati. tak lupa Sewaktu berhenti di stasiun Madiun membeli Nasi pecel Pincuk yang dijajakan para penduduk sekitar. Rasanya lumayan dengan harga 5000 per bungkusnya.

Sampai di rumah bertemu orang tua meski sudah larut tetap saja menyempatkan untuk ngobrol ngalor ngidul melepas rindu setelah sekian lama di perantauan. Pagi hari bangun tidur semua masakan sudah cemepak di atas meja makan, dan wowwwww Ibu menyempatkan untuk memasak cap jaek, humm nikmat sekali.

Sehari ada di Jogja dimanfaatkan untuk mengunjungi Pakde-Bude memang tidak bisa semuanya bisa di kunjungi karena waktu pun hanya sehari. dari mulai pagi hingga sore, dari barat yogyakarta hingga ke ujung utara yogyakarta rasanya badan pegel-pegel. Alhamdulillah masih bisa menyempatkan untuk beli tongseng kambing :) lumayan buat obat capek.

Tiba waktunya untuk kembali ke perantauan, sengaja cari penerbangan agak sore biar nggak kesusu-susu, menunggu di waiting room Bandara Adisucipto merupakan momentum yang enggak banget. Segala kesedihan meninggalkan keluarga dan jogja seisinya menjadi pemberat pundak dan langkah kaki, biasanya diselingi dengan baca buku tapi untuk kali ini alhamdulillah bisa ditemani oleh istri tercinta sehingga perasaan itu mulai sedikit demi sedikit terkikis. Sayang pilihan jam terbang yang agak sore kurang saya antisipasi dengan baik, alhasil saat transit di Jakarta terkena delay sekitar setengah jam ditambah antrian penerbangan di bandara Soetta yang begitu padat menambah molor waktu take off. Landing yang seharusnya di rencanakan sekitar jam 20.30 ternyata harus mundur menjadi jam 22.30. Suasana Bandara sudah sepi, tempat makan sudah tutup padahal perut lumayan menagih untuk diberi sesuap nasi.

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Pekanbaru.

Kembali, Kembali kita bersama-sama lagi.
Kembali kita bersama-sama lagi,
Sampai akhir waktu nanti.

Masih saja alunan lagu di stasiun Gubeng itu terngiang.

/* “Merantau itu seperti mekarnya kembang mas, waktu kepulangannya selalu di tunggu” Diambil dari kata-kata sahabat saat pertama ke perantauan. */

 

 

 

 

 

 

Kangen Jogja

djogja, kota kelahiran nan indah. Selalu teringat dan ngangeni banget. Masih selalu terkenang akan udara sejuknya (apalagi dulu waktu berangkat kuliah jam 7 pagi.. BBrrrrr) meskipun sekarang banyak yang mengeluh tentang panasnya jogja (sumber : lini masa berbagai social media). Tetapi Setelah merasakan perantauan ini saya tak pernah lagi merasakan panasnya jogja ketika mudik, tak lebay tapi memang itu kenyataannya tak sedikitpun peluh ini menetes ketika kembali ke pangkuan tanah kelahiran. Bahkan ada satu cuaca yang tak kutemukan di saat ada di perantauan. Bediding, entah benar atau salah tapi begitulah aku menyebutnya di mana waktu siang terasa cukup panas dan di malam hari dingin bukan main karena angin (bukan karena hujan).  Kerinduan akan kampung halaman sebenarnya selalu tersimpan bahkan tak bisa kulupakan sedikitpun, keluarga lah yang terutama menjadi pokok kerinduan. Selain itu begadang theng-theng crit (thenguk-thenguk crito/duduk-duduk bercerita) sama teman-teman seperjuangan pendukung PSIM Jogja yang biasanya thongkrongan di depan KR serta menjajah kuliner wengi (malam hari) turut berperan aktif dalam membangkitkan panji-panji “kangen jogja” begitulah sekilas kehidupan malamku sewaktu masih di jogja sekitar 2009 lalu.

Tugu Jogja Image

Taken From Sowanjogja

Kehidupan malam itu identik dengan kehidupan yang berbau glamour di tempat remang-remang kerlap-kerlip dan dentuman musik yang membahenol.. kabarnya disitu pula dapat menikmati butiran-butiran pasir setan serta wanginya air iblis… tapi aku tak seperti itu, kehidupan malamku bukan di tempat itu… seperti yang disebutkan diatas saya lebih suka menghabiskan malam dengan theng-theng crit. Angkringan kang Jabrik, Angkringan Lik Man (Kopi Jos), Angkringan Kang Sutar (Wirobrajan), Angkringan texas (Sudagaran), nasi rames pedes ngGejayan, Teh poci Lik Man (Bugisan/SMSR), BNG Net (alm.), Wiro Net (isih ono ra yo?), Blossom Net (aku bocahmu dab) Dan masih banyak yg lain (Liane Lali.. ).

Menikmati malam kota jogja, menjadi seperti candu. Tak ada habisnya dan tak ada bosannya. Namun akhir-akhir ini dahi mengernyit dan miris bila mendengar kabar tentang Jogja. Kriminalitas santer diberitakan di tiap-tiap media massa, memang waktu masih tinggal di jogja kasus kriminalitas juga kerap menjadi bahan berita namun yang belakangan terjadi sudah diluar batas kewajaran. Bahkan sudah menjadi headline di Riau Pos maupun Metro Riau yang sehari-hari menjadi bahan baca berita saya yang artinya kasus ini sudah berada dalam tingkat nasional. Mulai dari Kasus penusukan anggota TNI Sertu Sriyono, Penusukan anggota kopassus Sertu Heru Santoso, Penyerbuan di Lapas Cebongan, tak habis disitu masih juga ada perampokan pegadaian dengan derita kerugian sekitar 6M.

Ahhh… entah kapan lagi aku bisa pulang bertemu keluarga, temans serta semilir angin malam jogja. Semoga kasus-kasus diatas bisa segera dituntaskan dan kembali Jogja menghadirkan suasana ramah bagi para tamu dan perantaunya seperti alunan lagu Yogyakarta – KLA Project.

Jogja Never Ending Asia.

 

Best Seller of Capcay | jogja

Salah satu masakan yang aku suka adalah cap cay goreng, gak tau kenapa klo pas lagi mampir di warung bakmi jowo selagi ada cap cay goreng ya pasti itu juga yang ku order . cap cay adalah masakan yang berisi sayuran, daging dan kadang2 ada irisan tepung goreng (nhaaa ini intinya.. ) tapi ada juga yang melengkapi masakannya dengan irisan ati ampela, udang, rolade, bakso, sosis dan lain2..( wew kok jd banyak bgt yak!!). cabang kuliner yang satu ini emang favorit banget, menurutku sih masakan ini berasal dari china ini aku simpulkan dari pemberian namanya cap cay, cuman kenapa yak kok yang jual biasanya jadi satu sama bakmi jawa. (Apa sudah ada koalisi baru ya.) Disini saya cuman pengen berbagi pengalaman tempat mana aja yang udah pernah aku rasain capcaynya, tapi ini cuman khusus di jogja lho… dan Insya Allah dijamin késér-késér. hehehe:

1. Cap cay Pak Rakiman
Pak rakiman adalah penjual bakmi jawa yang membuka warungnya di jalan K.H.A Dahlan, yogya. Lebih tepatnya berada di barat Madrasah Aliyah Negri. Tipe cap cay goreng nya Kering, dominant kecap. Harga nya standar lahh.. cuman klo kita pesan nasi putih disini terlalu pero (kering), so biasanya pesen di warung pecel lele sebelah (hahahaha urik yaaa…)

2. Cap cay Pasar Legi
Warung cap cay ini dibuka di depan pasar legi bugisan, Tepatnya jl bugisan jogja. Selatan perempatan patang puluhan. Cap cay disini tergolong paling lengkap isinya. Selain sayuran juga dilengkapi dengan udang, rolade, sosis, bakso,. Wuiihhh lengkap kann… tipenya berkuah walaupun gak banyak lebih dominant saosnya. Dijamin deh enak sampai késér-késér. Cuman sayang ayamnya bukan ayam kampong dan harganya relatif mahal. Tapi dengan kualitas yang mumpuni capcay ini tetep dijamin keser-keser.

3. Cap cay prayan
Klo cap cay yang satu ini agak sulit ngasih tau alamatnya soalnya tempatnya di jalan kampong je.. pie yo?.. yowis lah saya jelaskan walopun dengan terbata2. lokasinya emang dijalan kecil nama daerahnya adalah prayan ato lengkapnya nitiprayan. Singkatnya , perempatam patangpuluhan ke selatan, terus pertigaan bugisan keselatan (hati2), yanto motor belok kekanan teruuuusss.. mentok belok kanan, di sebelah kiri jalan ada warung bakmi.. nha di situlah cap cay goreng itu berada.. agak sulit memang tempatnya, tapi rasanya gak kalah enak juga. Model nya kayak yang di pasar legi. Cap cay goreng dengan sedikit kuah yang dominant saosnya. Harganya ya nayamul (lumayan) diatas standar.

4. Cap cay depan RS Bethesda
Yang mana yaa… pasti pada bingung, masalahnya kaki lima di depan RS ini banyakkk banget. Tp tenang aja mudah kok tempatnya karena lokasinya di pojokan barat sebelah utara jalan. (Hehehe bingung yaaa).. atau di sebelah timur superindo warung bakmi jawa ini jadi satu sama susu segar, jadi bisa empat sehat lima sempurna. Harganya juga standar gak terlalu mahal

5. Cap cay timur Galeria (depan time gallery)
Klo cap cay yang ini ada dua warung tapi klo aku sih lebih suka yang namanya “sederhana” sesuai dengan namanya capcay disini sederhana sayuran , daging dan irisan tepung. Tipenya tidak terlalu kering ada kuahnya sedikit dengan dominant kecap. Warungnya juga jadi satu sama susu segar btw bakmi jawa sama susu segar akur banget yaa… apa ikut2an koalisi ya.. hehehe

6. cap cay Terminal concat
terletak di dalam terminal concat lebih tepatnya di bagian pojok belakang utara. Cap cay disini hanya mengeksplorasi sayuran saja. Dengan kata lain sayuran thok thil. Tapi selain itu juga ada menu2 yang lain yang tak kalah menarik.pokoke till késér-késér dah….

Yowis pokoknya itu saja dulu sebenernya masih banyak yang lain cuman lupa satu per satunya. Pokoke KULINER TILL késér-késér dab…