Kuliner 6.3

Kehidupan orang-seorang pasti berlainan, hanya saja setiap orang pasti membutuhkan hiburan. Salah satu hiburan nya adalah nongkrong di tempat kuliner. Kuliner saat ini bukan hanya tempat untuk ngisi perut semata tapi banyak yang sudah menyusupkan unsur lifestyle dalam kajian kulinernya. Makanan yang lezat, nikmat, dan cita rasa memang menjadi modal utama dalam bisnis ini tapi pasti ada unsur pendukung lain yang nantinya juga bisa sebagai penarik minat pemuja kuliner.

Kuliner yang mengutamakan citarasa biasanya mengesampingkan faktor pendukung tersebut, Sebut saja Gudeg Pawon (Janturan, Yogyakarta) yang pembelinya bisa langsung pesan makanan di dapur, Angkringan Sate (Blimbingsari,Yogyakarta) yang lesehan dengan tikar seadanya penuh mahasiswa, Gulai tapah Muara Basung (Duri, Riau) dan Sop Kaki kambing Pak Kumis (Pekanbaru) dari tempat kuliner di atas tidak memiliki infrastruktur  yang mewah dan lengkap untuk duduk menikmati, tetapi masih menjunjung cita rasa yang disuguhkan setiap harinya sehingga pengunjung pun tetap hilir mudik berdatangan mencicipi masakannya tentunya sebelum pulang bayar dulu.

Sebaliknya ada tempat kuliner yang masakannya biasa-biasa saja tetapi menambah nilai plus dari sisi fasilitas dan pendukungnya, seperti ditambah dengan LCD projector untuk nonton bareng, lokasi berada di lantai atas dengan view kota sekitar, kolam luas dan pemandangan yang asri , sampai kepada desain interior dan keunikannya.

Lantas apa maksud Kuliner 6.3?

Logo ISO

Taken From iso.org

6.3 disini bukan berarti versi kuliner terbaru tetapi 6.3 ini saya ambil dari salah satu klausul ISO 9001:2008, dimana ISO 9001 ini mengatur tentang Sistem Manajemen Mutu sebuah organisasi. Untuk mencapai organisasi yang bermutu maka dibutuhkan pemenuhan persyaratan dan salah satu persyaratan dalam point 6.3 adalah Infrastruktur, berikut cuplikannya :

6.3 Infrastruktur

Organisasi harus menetapkan, menyediakan dan memelihara infrastruktur yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian dengan persyaratan produk. Infrastruktur termasuk, jika diterapkan :

a.      Bangunan, ruang kerja, dan utilitas terkait.

b.      Peralatan Proses (baik perangkat keras, dan perangkat lunak) dan,

c.       Layanan pendukung (seperti transport dan komunikasi atau sistem informasi)

 

Hubungannya?

Sudah sewajarnya dan lazim tempat kuliner memiliki tempat untuk menggelar dagangannya, tetapi bagaimana dengan utilitas terkait dan layanan pendukungnya?.

Sewaktu kita datang tentunya membutuhkan tempat parkir baik parkir motor maupun parkir mobil. Demikian ketika makanan sudah dihadapan yang kita butuhkan biasanya saos, kecap, sambal. Lain halnya setelah selesai makan kita butuh tissue, tusuk gigi, wastafel. Bahkan di luar itu kita terkadang juga membutuhkan toilet.

 Untuk saos, kecap, sambal, tissue, tusuk gigi cara penyajian dari beberapa tempat pun lain-lain ada yang memang sudah di sediakan di masing-masing meja. Tetapi ada juga yang mejanya bersih namun diberikan bersama dengan menyajikan makanannya. Satu catatan di kopioey warung nya pak Bondan Winarno memadukan kedua hal tersebut, dimana ada sebagian meja yang sudah berisi lengkap kebutuhan tersebut dan ada meja yang kosong/bersih. Mungkin dimaksudkan tidak setiap orang datang untuk makan karena salah satu konsepnya adalah tempat minum kopi :). Lain halnya di Local Pantry (Pekanbaru) Meja bersih dan sarana pendukung di hidangkan bersama makanan yang datang. (NO-ADV)

 

Pengalaman “Nggak enak” terkait dengan kuliner 6.3 yang saya alami:

makan di foodcourt sebuah mall yang cukup terkenal. Tempatnya bersih begitu juga dengan mejanya. Setelah masakan datang saya butuh kecap, namun nihil kala melihat begitu bersihnya meja, sehingga memutuskan untuk memanggil pelayan dan minta untuk diberikan kecap. Karena lama makanya sekalian aja sambil makan dan alhasil tinggal beberapa suap lagi makanan habis kecap pun baru datang… :)

Makan di ayam goreng, karena makannya pakai tangan makanya setelah selesai seriously need wastafel, setelah sampai di wastafel ternyata ohh my god dasarnya transparan karena pakai kaca, jadilah sisa-sisa makanannya entah siapa terlihat , tempat bayar di kasir juga non-AC pakai Kipas dan tempatnya gak kecil jadilah agak-agak bau lembab, dari dua kejadian ini bikin lumayan ilfeel… :)

Tempat jualan steak yang identik dengan warna kuning-hitam, dinding keluar masuk pantry kebetulan berwarna kuning dan jelas terlihat bercak-bercak lima jari yang entah sudah berapa ribu jari yang menempel di dinding itu. Terihat bahwa tidak ada jadwal perawatan dinding. Tapi sekarang udah di cat baru pakai warna item (mungkin biar ga keliatan yak) tapi ga tau kalo di cabang lain :)…

Begitulah pengalaman kuliner 6.3 yang telah saya alami mungkin masih banyak lagi tapi gak mungkin untuk dijabarkan semuanya disini. Memang lain pengusaha lain juga trik bisnisnya. tetapi alangkah bagusnya bila hal seperti ini juga patut dipertimbangkan karena berkaitan langsung dengan kepuasan pelanggan. Atau mungkin sang pemilik sebenarnya sudah menerapkan standar pelayanan yang bagus, tetapi karena miskin pengawasan kepada pelayan menjadikan pelayanan kurang maksimal.

Bagaimana dengan pengalaman kuliner 6.3 anda?

11 thoughts on “Kuliner 6.3

  1. Pingback: Product Knowledge 6.2 | AfanRida

  2. duniaely

    Kalau di sini sih seringnya puas ya, soalnya kebanyakan mereka pada memperhatikan hal tsb, krn ada juga petugas khusus yg tanpa jadwal datang meemriksa, kalau nggak memenuhi syarat termasuk kebersihan misalny abis akena denda byk atau ditutup usahanya, efek jeranya lumayan berfungsi :P

    Reply
  3. dinie

    wowowow, mantap! saya baru tau isi klausul 6.3 dari sini nih hehe

    kalo pengalaman kuliner yg berkaitan dengan 6.3 ini, kayaknya mirip2 deh sama pengalaman mas afan.. yang di meja gak ada tempat sendok/garpunya lah, yang gak ada tissue lah, yah begitulah..

    biasanya terjadi karena kekurangan karyawan, atau lagi kebanjiran pengunjung tuh kalo udah begitu.

    Reply
  4. Anton

    Memang sih, aku juga menemui hal kayak gtu, makanannya enak tapi sarana prasaranya kurang mendukung…jadinya ya kurang oke, apalagi kalo kita bawa anak2…

    Reply

Tinggalkan Balasan