Product Knowledge 6.2

Juli 2013

Kembali bukan masalah versi software, namun menulis masalah sistem manajemen mutu yang notabene lanjutan dari kuliner 6.3. Kalau di kuliner 6.3 saya tulis tentang infrastruktur, sekarang saya bahas tentang Sumber Daya Manusia. Acuannya dari ISO 9001:200 point 6.2 seperti berikut :

6.2 Sumber Daya Manusia

6.2.1 Umum

Personil yang melakukan pekerjaan yang mempengaruhi kesesuaian persyaratan produk harus kompeten berdasarkan kesesuaian pendidikan, pelatihan, ketrampilan dan pengalamannya.

Catatan: Kesesuaian terhadap persyaratan produk dapat berdampak secara langsung atau tidak langsung oleh personel yang melakukan suatu pekerjaan di dalam Sistem Manajemen Mutu.

6.2.2 Kompetensi , pelatihan dan kepedulian

Organisasi harus :

  1. Menetapkan kompetensi yang dibutuhkan untuk personel yang melaksanakan pekerjaan yang mempengaruhi kesesuaian dengan persyaratan produk.
  2. Bila sesuai, memberikan pelatihan atau mengambil tindakan lainnya untuk memenuhi kebutuhan kompetensi.
  3. Mengevaluasi keefektifan tindakan yang diambil.
  4. Memastikan bahwa personel peduli mengenai kaitan dan pentingnya kegiatan mereka dan bagaimana mereka menyumbang pada pencapian dari sasaran mutu, dan
  5. Memelihara catatan yang sesuai dengan pendidikan, pelatihan, ketrampilan dan pengalaman.

 

Jadi ceritanya beberapa waktu lalu makan malam bersama istri di salah satu waroeng makan yang menunya adalah steak (nama tempatnya disamarkan yaa…..), sesaat setelah memilih tempat duduk datanglah mas-mas yang bawa daftar menu + catetan. Setelah pilah pilih menu kemudian kita panggil mas yang tadi melayani, saya sodorkan pesanan menu nya sambil nanya “mas antara sirloin dan terderloin ini yang lemaknya sedikit yang mana?”  tanyaku.

Masnya senyum celingak-celinguk kanan kiri abis itu jawab pake logat daerahnya yang masih kental kentul  “Eeee…. sebenernya aku kurang paham sih mas, cuman pada dasarnya makanan disini berlemak semua”……….  ((( GlooOOOooonndankkKKKkk )))…….

 

Yang kedua kebetulan TV Voucher (nama providernya saya samarkan yaaa) yang dipasang dirumah sedang trouble kayaknya antenanya mereng jadi beberapa siaran ada yang macet2 ataupun gagal. Komplein sama kantornya dan sejurus didatangkan seorang teknisi, ketemu sama teknisinya langsung dalam hati menilai sepertinya teknisi ini susah dalam menjelaskan sesuatu hal entah mungkin terkendala dengan bahasa atau memang cara penyampaiannya seperti itu. Malahan setelah selesai benerin  istri saya neko-neko nanya “Pak, kalo yang TV voucher ini dipindah (migrasi) ke yang langganan bulanan bisa enggak?” yang tentu saja dijawab dengan kata “bisa” namun penjelasananya yang begana begini begitu akhirnya dengan susah payah kami simpulkan bisa ganti berlangganan bulanan caranya bikin aplikasi baru lagi ke tv berlangganan… **!!?? (kalo gini ini sih saya juga ngerti)    ((( KroOOoompyang )))

 

Yang ketiga ada pameran komputer terbesar.. ehh sampainya di mall ternyata banyak didominasi oleh penjualan gadget, tapi lumayan lah karena ada gadget yang menarik sekali. seonggok tablet ada keyboard sama docking nya saya lupa mereknya apa, abistu nanya sama SPGnya “ mbak yang ini harganya berapa?” meskipun SPG nya sudah bawa katalog tetep aja nanya sama ibu2 sebelahnya (mungkin ini pemiliknya) setelah tau harganya kembali saya tanya “Mbak harga itu tadi udah termasuk keyboard sama docking nya?” kembali lagi mbaknya nanya ke ibu2 sebelahnya, nah ibu2 sebelahnya ini kurang ngerti juga, tanyalah sama mas2 yang didepannya kebetulan masnya sedang sibuk dan kayaknya g ngerti juga karena bingung dan g dijawab. –Bengong –

 

Menyikapi ketiga kasus diatas paling saya sama istri Cuma saling lihat trus mengirimkan signal senyum kuda. Weleh-weleehhh… sebenarnya masih banyak kisah lainnya, namun cukup terekam dalam hati sanubari sambil senyum kuda.

 

Sales counter, SPG, front liner atau apalah namanya tak ubah nya seperti sebuah Sistem Operasi dalam komputer, bisa dibayangkan kita memakai komputer tanpa menggunakan OS Windows/Macintosh/Linux meskipun bisa jalan namun butuh pengetahuan dan ketrampilan ekstra keras. Nahh mereka yang langsung berhadapan dengan customer terkadang terabaikan oleh pemilik tempat usaha padahal mengacu pada persyaratan ISO 9001:2008  Kalusul 6.2 diatas “Personil yang melakukan pekerjaan harus kompeten berdasarkan kesesuaian pendidikan, pelatihan, ketrampilan dan pengalamannya”. Untuk kasus diatas mungkin tidak perlu pelatihan atau training yang mendalam dan cukup dilakukan orientasi sederhana terhadap pengetahuan produk yang sedang dijual. Maka lazim di perusahaan istilah Job desc. Yang bukan hanya membahas detial pekerjaan yang harus dilakukan namun juga berisi syarat minimal untuk menjalani profesi tersebut.

 

Bagi pemilik usaha “Sudahkah anda memperhatikan karyawan anda?

Bagi pekerja “Sudahkah perusahaan menerapkan klausul diatas?”

Bagi blogger “Pernahkanmengalaminya? Bagaimana komentar anda?”

 

7 thoughts on “Product Knowledge 6.2

  1. tips jitu

    kalo ane ama suami mah udah biasa ngeliat orang clingukan ama mringis2 kita tinggalin aja deh kalo pelayanannya bad gitu.. hihi

    kalo niatnya beneran beli pasti kecewa setengah koit .

    Reply
  2. Pakies

    saya rasa bukan hanya pada pemasaran saja masalah ini terjadi, di kantor dan hal-hal yang berhubungan dengan pelayanan publik bisa saja ditemukan.

    Nahh tambah lagi contohnya…. berarti atasan institusi tersebut ndak ngerti ISO 9001 :)

    Reply
  3. vizon

    Kunjungan balik nih Mas Afan..

    Saya lumayan sering menemukan kasus semacam itu..
    Yang lebih parahnya adalah, si sales belagak sok tau, padahal sudah jelas-jelas terlihat kalau dia tidak menguasai produk yang dijualnya.. hadeh…

    Terimakasih pak vizon, dilain pihak ada karyawan yang over pede dan di sisi lain ada perusahaan yang tidak mau tau akan pentingnya pengetahuan produk.. :)

    Reply
  4. websitemini

    pertanyaannya sih singkat, penjelasannya yang panjang lebar. kalau ujung-ujungnya sudah tahu, jangan tanya hehehehe

    Namanya juga cari alternatif lain

    Reply

Tinggalkan Balasan