Category Archives: uneg-uneg

Tera

Sebuah alat ukur tentunya membutuhkan pengujian agar selalu tepat dan layak pakai biasanya disebut dengan kalibrasi atau tera. alat ukur seperti timbangan dll harus di uji keakuratannya agar dapat digunakan secara maksimal dan tidak merugikan berbagai pihak. Demikian juga dengan adab jual beli yang disampaikan oleh Rasulullah S.A.W agar selalu jujur dalam ukuran.

Untuk tera tersebut dilakukan oleh dinas/pemerintah yang terkait. Seperti dokumen tera yang ada di kantor saya (screen shot). Dinas tersebut memiliki slogan “bancana patakaran pralaya kapradanan” dengan garisbawah (saya intepretasikan sebagai artinya) “Memperdaya ukuran menghilangkan kepercayaan”

Nah slogan ini kira-kira berasal dari bahasa apa ya? Ada yang tau?

 

 

Mendadak Mudik

Akhirnya bisa menyentuh kembali blog ini, setelah beberapa hari ditinggalkan karena perjalanan mendadak ke pulau seberang. Mendapat berita lelayu atas kepergian sepupu istri “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” yang ada di Surabaya mengharuskan untuk menjelajah “separuh Indonesia” untuk ta’ziah mewakili orang tua yang tidak bisa datang karena suatu hal sekaligus bertemu dengan keluarga di Surabaya yang belum pernah jumpa setelah menikah Januari 2013 lalu.

Meskipun lahir dan besar di Jogja tak serta merta semua daerah di pulau jawa telah ku kunjungi, minimnya keluarga yang merantau ke Jawa Timur turut menggaris bawahi ketiadaan trip ke Kota besar di Jawa Timur ini. Kalau tak salah ingat ini perjalanan pertama saya mengunjungi kota Pahlawan dan bertepatan pada hari kemerdekaan.  Perjalanan yang mengharuskan transit seperti ini cukup memakan waktu lama, memang sayang tidak ada penerbangan yang langsung menuju kota tujuan, semua harus transit di Jakarta atau Batam. Pilihannya jatuh ke Jakarta dan mencari waktu yang paling cepat tiba di Surabaya. Tiba di rumah duka ba’da dhuhur, ternyata jenazah sudah dikebumikan malam sebelumnya.

Setelah acara tahlilan (malam) kami pamit menuju hotel untuk beristirahat, hotel yang kami pesan ada di sekitaran Stasiun Gubeng karena tujuan hari berikutnya kami rencanakan ke Jogja menggunakan moda kereta api. Sampai hotel sebelum tidur perut terasa lapar, lihat menu di hotel kok mahal-mahal banget lalu berinisiatif untuk mencari makan keluar hotel  (padahal sewaktu acara tahlilan juga udah makan rawon hehe) berjalan menyusuri trotoar sempat melirik warung makan yang ada dipojok gubeng lama dari luar nampak seperti warung kopi biasa dengan banyak mobil dan motor yang parkir semula menilai seperti tempat parkir, awalnya tak memperdulikan keberadaan warung ini dan terus saja menyusuri trotoar ke arah utara (kalau tak salah) tetapi semakin lama kok malah semakin sepi, tak ada tanda-tanda adanya warung makan, akhirnya balik lagi dan kembali melihat warung tersebut. Nampak dari luar papan daftar menu meskipun kecil tetapi jelas terbaca “Warung Sederhana”, saatnya mencoba kuliner Surabaya, dan menurut saya warung ini memiliki menu yang enak-enak dan harga yang terjangkau.

Kesokan hari setelah sarapan dari hotel langsung ke St. Gubeng nuker tiket yang udah dibeli sehari sebelumnya sambil merubah jadwal keberangkatan, pilih jadwal yang lebih awal biar nggak kemaleman sampai di Jogja. Setelah selesai urusan tiket Kereta Api, balik lagi ke hotel, jarak yang tanggung dari stasiun ke hotel membuat pilihan naik becak. Dan sialnya becak Surabaya mini-mini sekali, alhasil pulangnya saya cuman bisa nongkrong jongkok di atas becak, karena gak cukup tempat duduknya buat berdua. Maklum seperti gajah duduk bahkan saat melewati rel kerata api tukang becak sempat bilang “Nyuwun pangapunten mas, mandhap rumiyin nggih amargi mboten kiat” (Maaf, masnya turun dulu ya karena nggak kuat) . banyak orang yang nokrong di pinggir jalan yang melihat dan tersenyum melihat kami hahahahaha…..


JW Lounge Soetta

Sore harinya setelah pamitan ke keluarga langsung berangkat ke stasiun Gubeng, lumayan nunggu sejam di stasiun bisa dimanfaatkan untuk makan siang plus sore, stasiun gubeng menurutku cukup bersih ditambah hari itu ada pengamen di dalam area waiting room stasiun namun bukan sembarang pengamen, tiga orang pengamen melengkapi diri dengan gitar bas + melodi + Drum komplit dengan amplifier plus mikropon. Lagu-lagu yang dibawakan lagu lama macam koes plus, panbers dll. Bagus, dan saya rasa pengamen yang seperti ini memang yang benar-benar menghibur dan tak membuat kekacauan. Banyak yang menunggu sambil menikmati alunan lagu yang didendangkan, kenapa saya tau banyak yang menikmati ?? karena gestur kepalanya sambil manggut-manggut :)

Perjalanan dengan kereta api, saya selalu menikmati naik kereta api. Entah apa masalahnya, apakah karena 14 tahun hidup di sekitar Stasiun Sentolo? ah mungkin juga tidak, yang jelasnya suara pergantian/sela2 rel itu selalu membawa aura tersendiri (jegleng jegleng gitu suaranya) dan juga decit rem saat mampir di stasiun yang dilewati. tak lupa Sewaktu berhenti di stasiun Madiun membeli Nasi pecel Pincuk yang dijajakan para penduduk sekitar. Rasanya lumayan dengan harga 5000 per bungkusnya.

Sampai di rumah bertemu orang tua meski sudah larut tetap saja menyempatkan untuk ngobrol ngalor ngidul melepas rindu setelah sekian lama di perantauan. Pagi hari bangun tidur semua masakan sudah cemepak di atas meja makan, dan wowwwww Ibu menyempatkan untuk memasak cap jaek, humm nikmat sekali.

Sehari ada di Jogja dimanfaatkan untuk mengunjungi Pakde-Bude memang tidak bisa semuanya bisa di kunjungi karena waktu pun hanya sehari. dari mulai pagi hingga sore, dari barat yogyakarta hingga ke ujung utara yogyakarta rasanya badan pegel-pegel. Alhamdulillah masih bisa menyempatkan untuk beli tongseng kambing :) lumayan buat obat capek.

Tiba waktunya untuk kembali ke perantauan, sengaja cari penerbangan agak sore biar nggak kesusu-susu, menunggu di waiting room Bandara Adisucipto merupakan momentum yang enggak banget. Segala kesedihan meninggalkan keluarga dan jogja seisinya menjadi pemberat pundak dan langkah kaki, biasanya diselingi dengan baca buku tapi untuk kali ini alhamdulillah bisa ditemani oleh istri tercinta sehingga perasaan itu mulai sedikit demi sedikit terkikis. Sayang pilihan jam terbang yang agak sore kurang saya antisipasi dengan baik, alhasil saat transit di Jakarta terkena delay sekitar setengah jam ditambah antrian penerbangan di bandara Soetta yang begitu padat menambah molor waktu take off. Landing yang seharusnya di rencanakan sekitar jam 20.30 ternyata harus mundur menjadi jam 22.30. Suasana Bandara sudah sepi, tempat makan sudah tutup padahal perut lumayan menagih untuk diberi sesuap nasi.

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Pekanbaru.

Kembali, Kembali kita bersama-sama lagi.
Kembali kita bersama-sama lagi,
Sampai akhir waktu nanti.

Masih saja alunan lagu di stasiun Gubeng itu terngiang.

/* “Merantau itu seperti mekarnya kembang mas, waktu kepulangannya selalu di tunggu” Diambil dari kata-kata sahabat saat pertama ke perantauan. */

 

 

 

 

 

 

Mendem

Mendem, sebuah kata dalam bahasa jawa yang bila diartikan dalam bahasa indonesia bisa berarti “Mabuk”

sedangkan mabuk selama ini selalu identik dengan minum minuman beralkohol hingga lupa diri,

padahal mabuk atau mendem itu luas artinya. diambil dari kamus bahasa indonesia mabuk memiliki arti sebagai berikut :

ma.buk
[a] (1) berasa pening atau hilang kesadaran (krn terlalu banyak minum minuman keras, makan gadung, dsb); (2) berbuat di luar kesadaran; lupa diri: rupa-rupanya dia sudah — , tergoda rayuan sehingga lupa bahwa dia sudah berkeluarga; (3) ki sangat gemar (suka): dia sedang — berhias; (4) ki tergila-gila; sangat berahi: bentuk wajah yg mungil dng sinar mata yg lembut itulah yg membuat aku — kepadanya

Seperti yang saya rasakan saat ini:
  • Mual
  • Kepala Pusing
  • Badan pegel-pegel
  • Tengkuk berat :)
Dan itu semua tidak disebabkan karena minuman beralkohol, tapi karena kebanyaken Peyek Welut alias Peyek Belut.
Demikian Sekilas info ini dilaporkan dari hati yang paling dalam.
Selamat Siang dan Salam Kolesterol…..

Lebaran

Tahun 2009 seminggu sebelum puasa tercatat kaki ini melangkah meninggalkan jogja tercinta, demi meraih cita.

Duri, riau. Menjadi kota persinggahan, bukan lagi jakarta seperti yang ibu ku inginkan. Namun aku mencoba sebuah peruntungan di kota minyak ini sekaligus mendekatkan diri kepada keluarga dari perempuan yang sekarang ini telah resmi menjadi istriku. 

Terhitung sampai dengan tahun 2013 ini sudah 5 kali melewatkan lebaran di jogja. Angka itu sudah melebihi angka keramat bang toyib. Tapi sampai detik ini pun belum ada yang menyebutku dengan bang toyib.

Lebaran di jogja bersama keluarga bukan sebuah lebaran dengan kemewahan namun cukup dengan suasana yang sederhana. Bahkan tak sekalipun pernah mengikuti takbir keliling yang didakan di seantero kota jogja. Karena memang kondisi rumah yang cukup jauh dari kota jogja, beruntung di desa tempat saya tinggal masi diadakan takbir keliling kampung. Cukup dengan berkumpul dengan keluarga dan menikmati takbir keliling membuat hati terasa tenang.

 Masakan

Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan seorang Ibu menjadi hal yang istimewa dimata anak2nya. Terlebih ibuku yang terlahir dengan nama suparmi, namun kenapa di KTP nya merubah jadi mamik suparmi yaa…

Bagiku memang tak ada masakan lebaran ditempat lain seenak yang ibuku buat (maksudnya di tempat lain sudah enak namun tetap tak bisa menandingi masakan beliau). Ada beberapa masakan favorit yang tanpa kami minta namun secara otomatis beliau masak. Memang di rumah kami tidak pernah ada yang namanya ketupat atau bahkan lontong sekalipun. Namun bagi kami anak2nya bukan ketupat yang kami inginkan tapi maskan ibu yang berupa cap jaeeeekkk. Mungkin aslinya namanya cap cay, tapi kalau di jawa yang seperti ini sebutanyya cap jaek (terdengar ndeso memang, tapi tak apalah, aku tetap bangga). Cap cay yang dijual biasanya banyak berupa sayuran mulai sawi, kol, kembang kol, wortel dll. Sedangkan bikinan beliau tidak seperti itu tapi banyak tepung goreng yang diiris dan sayurnya sedikit, makanya kami menyebutnya cap jaek ndeso.

Masakan kedua nya adalah sambel goreng ati, bukan karena ati sapinya yang menarik nafsu makan, namun krecek atau jangek nya begitu mempesona. Masakan yang berwarna merah sekilas menantang pedasnya tapi ternyata  gak pedas. Maklum gak doyan pedas.

Memang seperti yang sudah saya katakan diatas, kami tak butuh ketupat, kami tak butuh lontong, tapi pliss beri kami cap jaek dan sambel goreng ati (itu kata hati kami) sepertinya cap jaek dan sambel goreng ati sudah menjadi jiwa raga kami

 Sedih

Kalau tak salah ingat medio lebaran 2006, beberapa saat sebelum puasa ibu mengeluhkan sakit di bagian kaki. Periksa secara medis dapat diagnosa pengapuran pada sendi, memang pada waktu itu keluhan sakit berasal dari lutut beliau. Seiring waktu, sakitnya menjalar ke hampir seluruh bagian kaki bahkan untuk duduk di kursi roda pun tak mampu lagi. Hanya rebahan di kasur, sesekali untuk ke kamar mandi harus di papah pelan.

Bukan waktu yang singkat, beberapa cara untuk mengobati mulai dari spesialis syaraf, tabib hingga terapi pijat namun juga belum ada tanda-tanda menuju sembuh.

Bulan puasa tiba, tahun-tahun sebelumnya ibu selalu membuat masakan pada H-1 menjelang puasa berbagai macam bentuk hingga bisa di gunakan untuk tiga hari kedepan. .namun tahun itu, dengan kondisi yang ada, harus terima apa adanya karena juga fokus dengan kesembuhan ibu.

Sebulan ramadhan juga belum ada tanda pemulihan kesehatan, hingga saatnya lebaran tiba. Aku hanya diam, tak bisa lagi berkata bahkan meminta apapun, pakaian baru atau uang saku, aku hanya ingin ibu sembuh. Tapi kakak-kakak ku masih menyayangiku, sebagai anak ragil alias bungsu masih juga dibelikan baju plus angpao. Bahkan kakak membuatkan cap jaek di hari lebaran. Meski jarak rumah dengan lapangan hanya seratus meter, tetap ibu kubawa pakai mobil dan kursi roda, selesai sholat sebentar mendengar khotbah ibu sudah meminta untuk pulang karena sudah terasa sakit.

Satelah itu semua berkumpul, saya dan kakak-kakak dipimpin oleh bapak semua sama-sama minta maaf halal bihalal. Kamar yang tak begitu lebar itu membawa aura keharuan, dan kesedihan yang mendalam dengan kondisi ibu yang masi terbaring sakit. Air mata ini tak terasa sudah meleleh membasahi pipi, tak sebentar sampai beberapa saat saya masih merasakan air mata ini mengalir begitu derasnya.  AKU TAK BISA MENAHANNYA BAHKAN SAMPAI SAAT INI DAN DETIK INI.. perasaaan itu masih saja lekat #sedih

 Beberapa bulan setelah itu, dengan tingginya harapan ibu pulih dan sehat kembali. Hingga nyata akhirnya berangsur pulih, mulai bisa duduk dan alhamdulillah hingga benar-benar pulih.

Dan bahkan beberapa tahun kemudian masih bisa menyaksikan pernikahanku yang diselenggarakan cukup jauh lintas pulau.

Alhamdulillah, ucap syukurku kepada ALLAH SWT, atas segala rahmat dan hidayah nya. terbentang jarak yang jauh. Doaku untuk kedua orang tuaku dan keluargaku semoga selalu diberi nikmat iman, nikmat kesehatan dan limpahan rahmat serta perlindungan dari Allah SWT. aminn..

Google

Setelah posting Bendera K3 yang selain mau share tentang Kep Men Bendera K3 juga masalah google meng google, tiba-tiba ingat lagi kejadian jaman dulu sewaktu masih di Jogja. Kerja gak kenal waktu pagi, siang, sore dan malem mungkin memang bisa bikin otak nge-blank. Tapi entah ding beneran nge-blank ato enggak. Ato memang beneran mlongoo…

Singkat cerita malem-malem masih aja nongkrong di kantor buat mantengin grafik yang naik atau turun kayak gambar gunung dan lembah. Kalau prediksinya naik ya pencet buy tapi kalau prediksi sebaliknya tinggal pencet sell (you know what i mean lahh… ). Nah karena mantenginnya satu orang satu kompie jadinya komunikasi dilakukan via YM (Bukan Yusuf Mansur lhohhh)…. karena waktu itu lagi ngetren2nya YM dan saking jadulnya masih pake friendster. Apalagi kondisi teman yang waktu itu ada di lain ruangan, jadilah YM sebagai interface yang paling nendang markondang.

Katrok
Tiba saatnya teman kirim pesan ke YM buat nanyain tentang sesuatu hal (Saya lupa detil apa yang ditanya) sejurus dengan itu saya langsung buka browser akses mesin pencari paling canggih saat itu Google dot com namanya.. tak berapa lama memasukkan keyword muncul hasil pencarian yang pada waktu itu cukup memuaskan, informasinya di dapat dengan baik. Langsung share informasinya, tetapi rupanya teman satu ini kurang puas (kurang lengkap informasinya-Red). Ya karena saya juga gak terlalu interest sama bahasannya maka saya langsung aja balas dengan sigapnya
“Di googling aja bang, banyak yang bahas masalah itu” kataku.
Sejenak tak ada jawaban dari teman, tiba saatnya muncul pesan “Gak ada fan”.
Kupastikan lagi dan informasinya masih komplit bin lengkap, langsung ku jawab “ Ada kok, banyak”
“Ini udah aku cari kok gak ada” jawabnya langsung.
Inisiatif ku muncul seketika dan kujawab “Coba bang, ketik Google[dot]com cari di situ”
Langsung dijawabnya “OooooooOOoooo Google[dot]com saya kira Googling[dot]com
“Makanya dari tadi kok gak ada” Jawabnya slow………………..

Ini ceritaku, Bagaimana Ceritamu??…………..

TypoHolic

Typo istilah yang digunakan apabila menemui salah tulis atau salah ketik. Gak tau juga sih darimana asalnya, tau-tau muncul istilah begituan, kesalahan-kesalahan tulis ini terkadang menjadi hal yang fatal bahkan melenceng jauh dari kata aslinya. tapi yang terjadi belakangan ini typo tersebut malah menjadi bahan kelucuan. Seperti gambar dibawah ini :

Tas Grosir

Tas Grosir

Seberapa parah typo yang pernah blogger temui?

 

 

Cerita Awal Ramadhan

Cerita awal ramadhan, bukan berkisah tentang perbedaan awal puasa atao metode pengukurannya namun cuman ingin sedikit share betapa bulan ramadhan bukan hanya bulan yang penuh berkah tetapi juga bulan yang tiba-tiba membuat orang menjadi kreatif berkata-kata bak pujangga sedang dimadu asmara.

Memang dibulan ramadhan dianjurkan untuk meminta maaf kepada orang tua, suami/istri dan saudara dan ini yang dimanfaatkan untuk merangkai kata-kata yang indah mengiringi indahnya berkah dibulan yang penuh rahmah.

saya cuplik kata-kata maaf yang unik dan kreatif dari sms yang masuk :

“MINTA MAAF” tak menjadikan kita “HINA”, “MEMBERI MAAF” tak menjadikan kita “BANGGA” .. dengan “SALING MEMAAFKAN” yang membuat kita “MULIA”. kadang mulut salah berkata , hati kadang salah menduga …. walau kita tak berjabat tangan .. tak bertatap mata … kepada sahabat, saudara, karib kerabatku semua … dengan Tulus dan Ikhlas kami memohon maaf lahir dan batin. Semoga kita dimasukkan ALLAH SWT dalam golongan orang yang bertaqwa Aminn..

Assalaamualaikum seiring terbenamnya mentari diakhir sya’ban tibalah ramadhan penuh ampunantatkala tak sempat berjabat tangan, semoga keikhlasan segala salah dan kekhilafan. MArhaban yaa Ramadhan, Ramadhan fi syahril mubarok, wa syahril maghfiroh, barrokallahu lanawalakum daaiman bi jami’i khoir. wal’awfu minkum. wassalaamualaikum.

Sungguh cantik kain pelekat, dipakai orang pergi ke pesta. Puasa ramadhan semakin dekat, mari kita sambut dengan suka cita. BUnga melati indah berseri, cermin hati dihari suci, SMS dikirim pengganti diri, lambang dari silaturahmi. Selamat menyambut Ibadah bulan Puasa Ramadhan 1434H. Mohon maaf lahir dan batin.

Terselip khilaf dalam canda, tergores luka dalam tawa, terbesit pilu dalam tingkah laku, tersinggung rasa dalam bicara, terkadang lisan ingin dijaga, terkadang laku ingin dipelihara, namun salah dan khilaf tetap saja ada, kesempurnaan hanya milik Allah semata, seiring akan datangnya bulan suci ramadhan marilah kita saling memaafkan. Marhaban yaa ramadhan, Mohon maaf lahir dan batin.

versi bahasa minang :
Tagigik lidah talapeh KECEK, Tasingguang hati alun ta UBEK, lah banyak salah nan lah ta BUEK, khilaf nan lamo usah di INGEK, salah nan baru jaan la di UPEK, dek bulan ramadhan lah samakin DAKEK, Barikan maaf walau SAKETEK. Mohon maaf lahir dan batin.

versi bahasa jawa:
Aruming gondopangurawing jiwo lan ati suci winayah wula poso, sumusul lumantaring nugroho ing dinten suci kebak berkah ngaturaken sedoyo lepat pangucap, tindak tanduk ingkang mboten prayogi kulo nyuwun agunging samudro pangaksami. “Marhaban yaa ramadhan”

Apapun ucapannya yang penting mohon maaf lahir batin dan saling memaafkan.

Marhaban yaa Ramadhan 1434H

Persahabatan Versus Belanda


Berakhir sudah drama persahabatan antara Indonesia Versus Belanda diatas lapangan hijau. Meskipun berakhir dengan tragis dimana Timnas kebanggan Indonesia harus menyerah dengan tiga gol tanpa balas. Saya sih nggak mau bahas masalah permainan timnas Indonesia, karena bagi saya menang atau kalah timnas tetep layak untuk ditonton (Arogan banget ya ??) cuman yang menjadi perhatian saya bahwa animo masyarakat untuk berduyun-duyun ke Gelora Bung Karno sudah kembali kepada bentuk yang mendekati normal. Dalam artian sudah riuh dengan suara suporter (berbeda dengan penampilan timnas beberapa waktu lalu yang sepi penonton). Ini menandakan bahwa bukan hanya daya jual tim lawan ( sekelas belanda ) yang menjadi daya tarik penonton untuk memenuhi GBK namun juga diliputi dengan kebanggaan mendukung anak bangsa terbaik dalam bidang sepakbola ini. Buktinya tim yang dihadirkan beberapa waktu lalu juga termasuk tim besar seperti Inter Milan, timnas Uruguay, Dll. Namun hal itu juga belum mampu menarik minat masyarakat.

Bukan Indonesia kalao tak meninggalkan masalah J, tiba-tiba berita santer terdengar manakala timnas tak bisa menggunakan jersey utama. Sontak seisi jagat social media mengutuk kejadian ini layaknya mexican wave di tribun penonton. Warna merah yang menggambarkan keberanian yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa diikuti dengan nama besar “Garuda di dadaku” gagal dipakai timnas. Urusannya adalah miskomunikasi. Sepele namun cukup membuat kecewa penonton, hal ini menjadi tidak mudah untuk diterima manakala sejarah kembali diubek-ubek dan masih terngiang 350 tahun dijajah Belanda, bahkan sempat tersebut “masih juga terjajah Belanda”. Karena wajarnya tim tuan rumah lebih berhak menentukan jersey yang akan dipakai namun kali ini lagi-lagi Indonesia dipaksa untuk “menyerah”. Sehingga putih hijaulah yang menjadi jersey Indonesia malam tadi. Tapi coba kita lihat screenshoot berikut

 

Robin Van Persie - afanrida.com

Robin Van Persie – afanrida.com

Screenshoot yang saya ambil sendiri saat pertandingan Indonesia Vs Belanda. Di dada kiri jersey Belanda terdapat lambang KNVB (PSSI nya Belanda) dan dibawahnya adalah dua bendera negara yang sedang bertanding dan disitu terdapat bendera Indonesia dan Belanda. (ini seperti jersey pada saat piala eropa beberapa waktu lalu). Jadi menurut saya  dari jersey ini, Belanda sudah mempersiapkan pertandingan persahabatan ini dengan baik, dan ini saya rasa sudah merupakan suatu bentuk penghormatan terhadap Indonesia sebagai tim lawan. Saya nggak tau apakah di jersey merah timnas juga menempelkan bendera dua negara? Karena di jersey Indonesia yang warna putih tidak ada benderanya. Saya bayangkan betapa bahagianya pemain yang dapat bertukar jersey dengan Belanda karena keunikan ini.

Dilain pihak digelarnya pertandingan seperti ini akan memunculkan potensi-potensi pesepakbola yang mencuri perhatian. Beberapa waktu lalu Andik Vermansyah sempat mencuri perhatian publik namun malam tadi Kurnia Meiga sang penjaga gawang menjadi perhatian publik manakala beberapa kali aksinya mampu menggagalkan peluang Belanda untuk mencetak gol. Bejibaku dengan semangat tinggi di bawah mistar gawang menjadikan Kurnia meiga patut diacungi jempol meski kebobolan 3 gol, bahkan Luis Van Gaal sempat memujinya. WoW sekali yaa..

Harus diakui level permainan memang jauh dibanding dengan lawan yang dihadapi tapi ujicoba harus terus di lakoni untuk menambah jamterbang dan skill timnas. Yang paling penting gelaran yang seperti ini memang murni seperti koar PSSI untuk memajukan sepakbola Indonesia bukan hanya untuk kepentingan dan keuntungan sebagian orang. Wallahu A’lam Bishawab.

Kangen Jogja

djogja, kota kelahiran nan indah. Selalu teringat dan ngangeni banget. Masih selalu terkenang akan udara sejuknya (apalagi dulu waktu berangkat kuliah jam 7 pagi.. BBrrrrr) meskipun sekarang banyak yang mengeluh tentang panasnya jogja (sumber : lini masa berbagai social media). Tetapi Setelah merasakan perantauan ini saya tak pernah lagi merasakan panasnya jogja ketika mudik, tak lebay tapi memang itu kenyataannya tak sedikitpun peluh ini menetes ketika kembali ke pangkuan tanah kelahiran. Bahkan ada satu cuaca yang tak kutemukan di saat ada di perantauan. Bediding, entah benar atau salah tapi begitulah aku menyebutnya di mana waktu siang terasa cukup panas dan di malam hari dingin bukan main karena angin (bukan karena hujan).  Kerinduan akan kampung halaman sebenarnya selalu tersimpan bahkan tak bisa kulupakan sedikitpun, keluarga lah yang terutama menjadi pokok kerinduan. Selain itu begadang theng-theng crit (thenguk-thenguk crito/duduk-duduk bercerita) sama teman-teman seperjuangan pendukung PSIM Jogja yang biasanya thongkrongan di depan KR serta menjajah kuliner wengi (malam hari) turut berperan aktif dalam membangkitkan panji-panji “kangen jogja” begitulah sekilas kehidupan malamku sewaktu masih di jogja sekitar 2009 lalu.

Tugu Jogja Image

Taken From Sowanjogja

Kehidupan malam itu identik dengan kehidupan yang berbau glamour di tempat remang-remang kerlap-kerlip dan dentuman musik yang membahenol.. kabarnya disitu pula dapat menikmati butiran-butiran pasir setan serta wanginya air iblis… tapi aku tak seperti itu, kehidupan malamku bukan di tempat itu… seperti yang disebutkan diatas saya lebih suka menghabiskan malam dengan theng-theng crit. Angkringan kang Jabrik, Angkringan Lik Man (Kopi Jos), Angkringan Kang Sutar (Wirobrajan), Angkringan texas (Sudagaran), nasi rames pedes ngGejayan, Teh poci Lik Man (Bugisan/SMSR), BNG Net (alm.), Wiro Net (isih ono ra yo?), Blossom Net (aku bocahmu dab) Dan masih banyak yg lain (Liane Lali.. ).

Menikmati malam kota jogja, menjadi seperti candu. Tak ada habisnya dan tak ada bosannya. Namun akhir-akhir ini dahi mengernyit dan miris bila mendengar kabar tentang Jogja. Kriminalitas santer diberitakan di tiap-tiap media massa, memang waktu masih tinggal di jogja kasus kriminalitas juga kerap menjadi bahan berita namun yang belakangan terjadi sudah diluar batas kewajaran. Bahkan sudah menjadi headline di Riau Pos maupun Metro Riau yang sehari-hari menjadi bahan baca berita saya yang artinya kasus ini sudah berada dalam tingkat nasional. Mulai dari Kasus penusukan anggota TNI Sertu Sriyono, Penusukan anggota kopassus Sertu Heru Santoso, Penyerbuan di Lapas Cebongan, tak habis disitu masih juga ada perampokan pegadaian dengan derita kerugian sekitar 6M.

Ahhh… entah kapan lagi aku bisa pulang bertemu keluarga, temans serta semilir angin malam jogja. Semoga kasus-kasus diatas bisa segera dituntaskan dan kembali Jogja menghadirkan suasana ramah bagi para tamu dan perantaunya seperti alunan lagu Yogyakarta – KLA Project.

Jogja Never Ending Asia.

 

Penjual Peyek

Malam itu sedang asyiknya makan malam di salah satu warung pojokan Sudirman Pekanbaru, beberapa saat setelah pesan makan dan minum. Mata ini tertuju pada salah satu bapak-bapak yang tiba-tiba hadir di warung tersebut, bapak itu bukan seorang penikmat kuliner tapi seorang penjaja Peyek. Berjualan keliling dari warung ke warung di pundaknya bertengger toples besar transparan berisikan peyek yang pada saat itu sudah setengah terisi yang berarti menandakan bahwa dagangannya cukup laku. Langkah gontai dan kulit lusuh mensiratkan bahwa tubuhnya sudah sekian lama diajak berkeliling-keliling kota.

Tertarik oleh tumpukan peyek yang ada dalam toples itu, kusiapkan selembar uang limaribuan, cukup lusuh tapi masih laku untuk transaksi jual beli. “Dapat lima” pikirku sebelum menghampiri Bapak penjual peyek. Bangkit dari dudukku menghampirinya kusapa sekaligus bertanya,

“satunya berapa pak?”,  tanyaku.

“Dua Ribu”, jawab bapak itu dengan tegas.

Setdahhh… koh mahal ya? Biasanya sih seribu rupiah. Akhirnya kuraih dompet dan kucatut tambahan uang seribu rupiah. “Beli tiga, Pak” sambil kusodorkan uang enam ribu rupiah. Setelah kembali ke tempat duduk ku, baru ku amati bapak penjual peyek yang silih berganti didatangi konsumen.

Hasil pengamatan:

  1. Harga cukup mahal, standarnya peyek dengan rasa dan bentuk seperti itu dijual seribu rupiah.
  2. Bapak itu harus berkeliling dari warung ke warung jalan kaki.

Sedikit menyimpulkan Mungkin bapak itu menjual dengan harga yang lebih mahal karena dia harus membawa peyek tersebut, berjalan dari warung ke warung bukanlah urusan yang mudah. Badan capek belum lagi harus menawarkan kepada calon pembeli. Bahkan keesokan harinya saya masih melihat bapak itu keliling menjajakan peyeknya dimana artinya fulltime jualan dari pagi sampai malem keliling door to door nawarin peyek.

Dari kejadian itu saya melihat sebuah ketidak efektifan dalam berjualan, dalam pandangan saya akan lebih bagus bila memiliki beberapa toples berisi peyek yang nantinya dititipkan di warung-warung. Pagi diantar, sore diambil sekaligus di rekap hasil penjualannya. Dengan resiko berbagi keuntungan dengan warung yang dititipi, yang artinya ada kemungkinan penghasilan menurun. Tetapi  bisa diantisipasi dengan menambah jumlah warung yang dititip.

AHHHH… tapi paragraf diatas kan cuman lamunanku, lamunan karena terlalu banyak baca buku pengusaha sukses, tapi tanpa pernah mempraktekkannya. Diluar bagaimana cara berjualannya saya salut sama bapak itu yang sanggup  berkeliling kota untuk mencari nafkah, mungkin bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk keluarganya. Memiliki modal keberanian untuk berdagang seperti itu patut diacungi jempol, berbeda dengan saya yang sampai sai ini masih saja berkutat sebagai Karyawan.

Bagaimana dengan anda?