Category Archives: Kuliner

Warung Sederhana | Surabaya

Jalan-jalan ke surabaya, sebelumnya sudah saya ceritakan di posting mendadak mudik, kelaparan dimalam hari menjadi hal yang wajar bagi kehidupan saya, apalagi kalau laparnya sudah “akut” rasanya menambah sulit mata ini untuk terpejam. Apalagi berada di kota lain yang nginepnya cuman sehari doang, membutuhkan suasana yang bisa diingat sepanjang waktu.

Jam menunjukkan pukul 23.00 mata masih sulit terpejam dengan kondisi perut kruek-kruek. Lihat menu di hotel yang super mahal beringsut tangan ini menutup daftar menu yang sudah disediakan rapi pada masing-masing kamar. Sejurus kulontarkan pertanyaan kepada Istri yang masih asik dengan gadgetnya “Keluar hotel yuk, cari makan siapa tau ada warung kaki lima di luar sana” tanyaku sekilas melihat suasana kota Surabaya dari lantai 9 yang masih cukup ramai. Istriku mengiyakan tanda setuju, maklum kami berdua hobi dengan sesuatu yang berhubungan dengan kuliner.

Cukup lama berjalan dari hotel menyusuri trotoar Stasiun Gubeng lama, tiba-tiba ketemu warung di pojokan areal stasiun. Parkir motor dan mobil berjejer-jejer dengan intensitas pelanggan yang riuh rendah suara renyah dan kluthak kluthik terdengar lirih dari dalam warung. Tak susah untuk menemukannya karena cukup strategis bersebelahan dengan jalan besar. Benerin posisi kacamata tajamkan indra penglihatan samar terbaca pada daftar menu yang tertempel di dinding dengan gagahnya “Warung Sederhana”. Penasaran dengan titlenya, sesederhana apa warung ini apakah harganya, tempatnya atau rasanya. Putuskan untuk mencoba, cari meja yang cukup luas dan rapatkan barisan bergerilya menu yang sudah terpampang indah di hampir setiap sudut ruangan.

 

“Nasi krengsengan” Ini yang belum pernah aku coba. Rasa penasaran semakin memuncak, disamping menu lain yang standar seperti bakmi goreng (bukan mi goreng loh…) nasi goreng, bihun, Ayam penyetan, nasi rames dan lain lain.

Pramusaji dengan seragam unik membuat mudah dikenali, panggil salah satu dan menanyakan apa itu “Nasi Krengsengan” seketika dipaparkan dengan cukup jelas, masakan ati ampela yang di masak seperti semur rasanya manis, kemudian tanya lagi apa menu masakan yang dianggap hot request dan dijelaskan tentang “Penyetan”. Tapi Istri saya penasaran dengan “Nasi rames”. Alhasil pilih menu “Nasi Krengsengan” dan “Nasi rames” usai setengah jalan makan kok sepertinya masih kurang ya? Yuk coba yang katanya spesial, pesan Penyetan ayam goreng tanpa nasi.  Setelah selesai makan kok ya masih ada sisa tempat diperut yang masih kosong dan akhirnya disusul dengan pesan Bihun goreng tapi dibungkus J.

Nasi Krengsengan : Ati ampela di masak seperti semur awalnya penasaran seperti apa bentuknya, dan setelah pesananan datang seperti pernah mencobanya sewaktu di jogja dulu namanya gongso ati ampela (warung belakang terminal concat). Rasanya Manis.dan rasa atinya terasa. Bagi yang tak suka manis dan tak suka tekstur ati ayam mendingan minggir deh hehehe..

 

Nasi rames : Nasi dengan tambahan sambal goreng dan terik deging sapi (kalau saya sih nyebutnya terik), daging sapinya empuk sayang cuman sepotong  :)

 

Ayam penyet ; Gurih, kering sambel terasi, dihidangkan dengan cobek tanah, awalnya terlihat sambal menggoda namun setelah di coba rasanya masih kurang begitu pedas.

Bihun goreng : Seperti bihun gorang lain dan yang ini enak rasanya meskipun tidak banyak kecap tapi rasanya tetap masnis.

Harga : standar warung yang ada di pulau jawa yang terkenal lebih ramah terhadap kantong dan dompet. Di dafter menu tertulis harga berkisar antara 9000 – 10000 rupiah, dan benar saja untuk semua yang saya pesan termasuk minum dan nasi tertagih sekitar 45.000.

Pelayanan : Pramusaji yang berbalut dengan seragam batik mudah dikenali sehingga mempercepat proses pemesanan makanan, awalnya sempat ragu karena banyaknya pengunjung serta tempat yang ramai namun pelayanan dari mulai pesan hingga makanan tersaji di meja tergolong cepat.

Jadi kalau ke surabaya, sempatin ya ke warung sederhana, dan ceritakan bagaimana kesanmu. :)

Salam Kolesterol……………..

 

Kuliner 6.3

Kehidupan orang-seorang pasti berlainan, hanya saja setiap orang pasti membutuhkan hiburan. Salah satu hiburan nya adalah nongkrong di tempat kuliner. Kuliner saat ini bukan hanya tempat untuk ngisi perut semata tapi banyak yang sudah menyusupkan unsur lifestyle dalam kajian kulinernya. Makanan yang lezat, nikmat, dan cita rasa memang menjadi modal utama dalam bisnis ini tapi pasti ada unsur pendukung lain yang nantinya juga bisa sebagai penarik minat pemuja kuliner.

Kuliner yang mengutamakan citarasa biasanya mengesampingkan faktor pendukung tersebut, Sebut saja Gudeg Pawon (Janturan, Yogyakarta) yang pembelinya bisa langsung pesan makanan di dapur, Angkringan Sate (Blimbingsari,Yogyakarta) yang lesehan dengan tikar seadanya penuh mahasiswa, Gulai tapah Muara Basung (Duri, Riau) dan Sop Kaki kambing Pak Kumis (Pekanbaru) dari tempat kuliner di atas tidak memiliki infrastruktur  yang mewah dan lengkap untuk duduk menikmati, tetapi masih menjunjung cita rasa yang disuguhkan setiap harinya sehingga pengunjung pun tetap hilir mudik berdatangan mencicipi masakannya tentunya sebelum pulang bayar dulu.

Sebaliknya ada tempat kuliner yang masakannya biasa-biasa saja tetapi menambah nilai plus dari sisi fasilitas dan pendukungnya, seperti ditambah dengan LCD projector untuk nonton bareng, lokasi berada di lantai atas dengan view kota sekitar, kolam luas dan pemandangan yang asri , sampai kepada desain interior dan keunikannya.

Lantas apa maksud Kuliner 6.3?

Logo ISO

Taken From iso.org

6.3 disini bukan berarti versi kuliner terbaru tetapi 6.3 ini saya ambil dari salah satu klausul ISO 9001:2008, dimana ISO 9001 ini mengatur tentang Sistem Manajemen Mutu sebuah organisasi. Untuk mencapai organisasi yang bermutu maka dibutuhkan pemenuhan persyaratan dan salah satu persyaratan dalam point 6.3 adalah Infrastruktur, berikut cuplikannya :

6.3 Infrastruktur

Organisasi harus menetapkan, menyediakan dan memelihara infrastruktur yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian dengan persyaratan produk. Infrastruktur termasuk, jika diterapkan :

a.      Bangunan, ruang kerja, dan utilitas terkait.

b.      Peralatan Proses (baik perangkat keras, dan perangkat lunak) dan,

c.       Layanan pendukung (seperti transport dan komunikasi atau sistem informasi)

 

Hubungannya?

Sudah sewajarnya dan lazim tempat kuliner memiliki tempat untuk menggelar dagangannya, tetapi bagaimana dengan utilitas terkait dan layanan pendukungnya?.

Sewaktu kita datang tentunya membutuhkan tempat parkir baik parkir motor maupun parkir mobil. Demikian ketika makanan sudah dihadapan yang kita butuhkan biasanya saos, kecap, sambal. Lain halnya setelah selesai makan kita butuh tissue, tusuk gigi, wastafel. Bahkan di luar itu kita terkadang juga membutuhkan toilet.

 Untuk saos, kecap, sambal, tissue, tusuk gigi cara penyajian dari beberapa tempat pun lain-lain ada yang memang sudah di sediakan di masing-masing meja. Tetapi ada juga yang mejanya bersih namun diberikan bersama dengan menyajikan makanannya. Satu catatan di kopioey warung nya pak Bondan Winarno memadukan kedua hal tersebut, dimana ada sebagian meja yang sudah berisi lengkap kebutuhan tersebut dan ada meja yang kosong/bersih. Mungkin dimaksudkan tidak setiap orang datang untuk makan karena salah satu konsepnya adalah tempat minum kopi :). Lain halnya di Local Pantry (Pekanbaru) Meja bersih dan sarana pendukung di hidangkan bersama makanan yang datang. (NO-ADV)

 

Pengalaman “Nggak enak” terkait dengan kuliner 6.3 yang saya alami:

makan di foodcourt sebuah mall yang cukup terkenal. Tempatnya bersih begitu juga dengan mejanya. Setelah masakan datang saya butuh kecap, namun nihil kala melihat begitu bersihnya meja, sehingga memutuskan untuk memanggil pelayan dan minta untuk diberikan kecap. Karena lama makanya sekalian aja sambil makan dan alhasil tinggal beberapa suap lagi makanan habis kecap pun baru datang… :)

Makan di ayam goreng, karena makannya pakai tangan makanya setelah selesai seriously need wastafel, setelah sampai di wastafel ternyata ohh my god dasarnya transparan karena pakai kaca, jadilah sisa-sisa makanannya entah siapa terlihat , tempat bayar di kasir juga non-AC pakai Kipas dan tempatnya gak kecil jadilah agak-agak bau lembab, dari dua kejadian ini bikin lumayan ilfeel… :)

Tempat jualan steak yang identik dengan warna kuning-hitam, dinding keluar masuk pantry kebetulan berwarna kuning dan jelas terlihat bercak-bercak lima jari yang entah sudah berapa ribu jari yang menempel di dinding itu. Terihat bahwa tidak ada jadwal perawatan dinding. Tapi sekarang udah di cat baru pakai warna item (mungkin biar ga keliatan yak) tapi ga tau kalo di cabang lain :)…

Begitulah pengalaman kuliner 6.3 yang telah saya alami mungkin masih banyak lagi tapi gak mungkin untuk dijabarkan semuanya disini. Memang lain pengusaha lain juga trik bisnisnya. tetapi alangkah bagusnya bila hal seperti ini juga patut dipertimbangkan karena berkaitan langsung dengan kepuasan pelanggan. Atau mungkin sang pemilik sebenarnya sudah menerapkan standar pelayanan yang bagus, tetapi karena miskin pengawasan kepada pelayan menjadikan pelayanan kurang maksimal.

Bagaimana dengan pengalaman kuliner 6.3 anda?

Nasi Grombyang dan Mendoan | Pekanbaru

Saya    : Mas, Asalnya dari mana?
Mas2    : Dari pemalang, Kalo masnya dari mana?
Saya     : Dari jogja mas, dah lama dipekan baru?
Mas2    : Baru kok mas…..

Entah bagaimana tiba-tiba obrolan di angkringan itu tiba2 membahas masalah kuliner yang ada di Pekanbaru. Kuliner ini memang masih asing di telingku ketika masnya menyebut salah satu masakan namanya Nasi Grombyang, haha nama masakan kok yo aneh2.

"Kok dikasih nama nasi grombyang? Apa habis makan trus dibalikkan mejanya biar suaranya Grommbyanggg gitu???" kataku sekedar untuk memecah suasana , biar lebih akrab J

"yoo enggak to mas, itukan Cuma namanya ajhaaa" bilang masnya (pake logat jawa yang medok, 11-12 sama logat saya).

"Trus kek gimana itu bentuknya?" tanyaku kemudian. sambil menyembunyikan logat jawaku, biar dikira orang pekanbaru. (heheh ngimpii)….

"itu lho mas mirip nasi rawon, pake kuah sama daging sapi. Disitu juga ada mendoannya. Mendoannya enak, kalo kita pesen baru di goreng. Ada juga sego megono sama teh poci. Yang datang kesitu banyak orang semarang, pemalang, dokter2 RS. awal bros juga ada yang datang kesitu kok mas" Panjang lebar masnya menjelaskan saya pun Cuma bisa mlongo, mlongo bukan karena takjub, tapi karena selain logat jawanya medok juga karena intonasinya yang naik turun (kayak radio mau abis batterynya, mbrebet-mbrebet gitu deh). Akhirnya saya stop pembicaraan sampai disitu, meskipun begitu saya menghargai perjuangan masnya yang mbrebet2 memperkenalkan khasanah dunia kuliner dari kota yang dia banggakan. Alangkah indahnya dunia ini manakala bisa berbincang dengan viral marketer seperti masnya itu yang dengan sukarela memperkenalkan keunikan daerahnya juga mempromosikan warung "orang sekampungnya".

Meluncur
Malam pun tiba, waktunya untuk cari makan malam. Badan ini rasanya masih nggregesi manakala berangkat dan pulang kerja selalu diiringi dengan hujan yang turun membabi buta.
"Kayaknya yang berkuah dan panas2 enak nih buat makan malam" pikirku, sejenak kembali teringat dengan cerita dagelan angkringan tempo hari yang membahas nasi grombyang pemalang. Tak lama akupun meluncur ke warung itu, pelan ku pacu motor SENDIRIAN (ini harus diperjelas karena biasanya ada yang nanya, makan dimana? sama siapa??? Cape deeeh) menuju jalan tambusai atau lebih dikenal dengan jalan nangka, clingak-clinguk sambil nyari pom bensi n (bukan buat ngisi bensin, tapi karena warungnya ada di seberang pom bensin). Akhirnya ketemu juga. Warung nya cukup bersih walaupun hanya di Emperan toko, satu emperan toko digunakan dua warung, dan yang sebelahnya adalah Mie/nasi goreng lesehan.

Menikmati
Sampai di warung itu hal aneh terjadi dimana ada satu keluarga yang pada waktu saya masuk langsung semuanya mellihatku, bukan hanya satu tapi SEMUANYAAA cape dehhh ada yang aneh gitu?? Apanya yaa??, kecuali kalo mo melihat tambunnya diriku hahaha.. tapi cuek, the show must go on.
langsung ke tempat yang jual dan disambut dengan sapaan ramah mas penjualnya " pesan apa mas?" dan dengan pedenya saya pesan nasi grombyang satu, minumnya jeruk hangat (kalo teh poci takut mahal hahaha), trus masnya kembali nanya "mau pake tempe mendoan?" ohh merdu sekaliii dan dengan suara yang sedikit tergetar saya bilang " iyyaa".

Tak berapa lama menu nasi grmbyang, jeruk hangat dan mendoan disajikan, dalam bentuk yang masih mengepullll…. gimana makannya kok panas banget gini?, praktis hanya jeruk hangat yang bisa langsung di santap malam itu. Dari terawang saya melihat penampakan nasi grombyang memang mirip dengan nasi rawon yang membedakan kalo nasi rawon nasinya dipisah sedangkan ini di campur jadi kayak nasi soto, kuahnya hitam, dan di atas terlihat irisan daging sapi yang satu-persatu seperti unjuk gigi, ditambah taburan daun bawang. Dari aromanya waaaaa mengundang selera sekali. Tak lama berselang dan dengan kemantapan hati saya coba untuk menyruput kuah nasi grombyang dan rasanyaaaaaaaaaaaaaaaa……………………………. kita lihat setelah yang satu ini..

 

 

Oke pemirsah masih bersama liputan nasi grombyang bersama afanrida.com kita lanjutkan kembali sesi cicip mencicip nasi grombayang. Eh sampai dimana tadi?? Ooo iya rasanya, kalo rawon rasanya lebih asin dengan sedikit manis, tapi kalo nasi grombyang tuh sebaliknya rasanya banyak manisnya dan sedikit ada rasa asin. Jadi bagi yang tidak suka manis ya mohon maaf mungkin anda hanya bisa membaca sampai disini…. J tapi bagi yang penasaran saya rasa tempat makan yang satu ini boleh dicoba, paling enggak kan bisa nyoba teh poci sama mendoan, alasan utama gak pesan teh poci karena kesitu cuman sendirian, coba kalo rame mungkin bisa pesan teh poci, karena teh poci itu buat saya gak asik kalo cuman dinikmati sendiri lebih nikmat kalo sambil ngobrol dll,

Mendoan
Di Riau atau pekanbaru khususnya cukup susah mencari mendoan karena di daerah ini penjual gorengan lebih suka menjual tempe goreng kering seperti tempe kripik. Nah disini ternyata gorengan mendoannya cukup untuk mengobati kangen. Tepung nya yang di goreng tidak begitu kering dan disajikan masih fresh from wajan wuiihhhh… bikin ketagihan.

Result
– Tempat cukup bersih
– Pelayanan Ramah dan cepat
– Mendoan Enak
– Rasa Nasi grombyang manis (sy kira ada yang suka ada yang enggak)
– Ada teh poci
– Ada menu lain seperti sego megono, juga dideketnya ada Mie dan nasi gorerng

Lokasi : Jl. Tuanku tambusai (Nangka) seberang pom bensin, Makanan khas Pemalang

Best Seller of Capcay | jogja

Salah satu masakan yang aku suka adalah cap cay goreng, gak tau kenapa klo pas lagi mampir di warung bakmi jowo selagi ada cap cay goreng ya pasti itu juga yang ku order . cap cay adalah masakan yang berisi sayuran, daging dan kadang2 ada irisan tepung goreng (nhaaa ini intinya.. ) tapi ada juga yang melengkapi masakannya dengan irisan ati ampela, udang, rolade, bakso, sosis dan lain2..( wew kok jd banyak bgt yak!!). cabang kuliner yang satu ini emang favorit banget, menurutku sih masakan ini berasal dari china ini aku simpulkan dari pemberian namanya cap cay, cuman kenapa yak kok yang jual biasanya jadi satu sama bakmi jawa. (Apa sudah ada koalisi baru ya.) Disini saya cuman pengen berbagi pengalaman tempat mana aja yang udah pernah aku rasain capcaynya, tapi ini cuman khusus di jogja lho… dan Insya Allah dijamin késér-késér. hehehe:

1. Cap cay Pak Rakiman
Pak rakiman adalah penjual bakmi jawa yang membuka warungnya di jalan K.H.A Dahlan, yogya. Lebih tepatnya berada di barat Madrasah Aliyah Negri. Tipe cap cay goreng nya Kering, dominant kecap. Harga nya standar lahh.. cuman klo kita pesan nasi putih disini terlalu pero (kering), so biasanya pesen di warung pecel lele sebelah (hahahaha urik yaaa…)

2. Cap cay Pasar Legi
Warung cap cay ini dibuka di depan pasar legi bugisan, Tepatnya jl bugisan jogja. Selatan perempatan patang puluhan. Cap cay disini tergolong paling lengkap isinya. Selain sayuran juga dilengkapi dengan udang, rolade, sosis, bakso,. Wuiihhh lengkap kann… tipenya berkuah walaupun gak banyak lebih dominant saosnya. Dijamin deh enak sampai késér-késér. Cuman sayang ayamnya bukan ayam kampong dan harganya relatif mahal. Tapi dengan kualitas yang mumpuni capcay ini tetep dijamin keser-keser.

3. Cap cay prayan
Klo cap cay yang satu ini agak sulit ngasih tau alamatnya soalnya tempatnya di jalan kampong je.. pie yo?.. yowis lah saya jelaskan walopun dengan terbata2. lokasinya emang dijalan kecil nama daerahnya adalah prayan ato lengkapnya nitiprayan. Singkatnya , perempatam patangpuluhan ke selatan, terus pertigaan bugisan keselatan (hati2), yanto motor belok kekanan teruuuusss.. mentok belok kanan, di sebelah kiri jalan ada warung bakmi.. nha di situlah cap cay goreng itu berada.. agak sulit memang tempatnya, tapi rasanya gak kalah enak juga. Model nya kayak yang di pasar legi. Cap cay goreng dengan sedikit kuah yang dominant saosnya. Harganya ya nayamul (lumayan) diatas standar.

4. Cap cay depan RS Bethesda
Yang mana yaa… pasti pada bingung, masalahnya kaki lima di depan RS ini banyakkk banget. Tp tenang aja mudah kok tempatnya karena lokasinya di pojokan barat sebelah utara jalan. (Hehehe bingung yaaa).. atau di sebelah timur superindo warung bakmi jawa ini jadi satu sama susu segar, jadi bisa empat sehat lima sempurna. Harganya juga standar gak terlalu mahal

5. Cap cay timur Galeria (depan time gallery)
Klo cap cay yang ini ada dua warung tapi klo aku sih lebih suka yang namanya “sederhana” sesuai dengan namanya capcay disini sederhana sayuran , daging dan irisan tepung. Tipenya tidak terlalu kering ada kuahnya sedikit dengan dominant kecap. Warungnya juga jadi satu sama susu segar btw bakmi jawa sama susu segar akur banget yaa… apa ikut2an koalisi ya.. hehehe

6. cap cay Terminal concat
terletak di dalam terminal concat lebih tepatnya di bagian pojok belakang utara. Cap cay disini hanya mengeksplorasi sayuran saja. Dengan kata lain sayuran thok thil. Tapi selain itu juga ada menu2 yang lain yang tak kalah menarik.pokoke till késér-késér dah….

Yowis pokoknya itu saja dulu sebenernya masih banyak yang lain cuman lupa satu per satunya. Pokoke KULINER TILL késér-késér dab…