Monthly Archives: April 2013

Kangen Jogja

djogja, kota kelahiran nan indah. Selalu teringat dan ngangeni banget. Masih selalu terkenang akan udara sejuknya (apalagi dulu waktu berangkat kuliah jam 7 pagi.. BBrrrrr) meskipun sekarang banyak yang mengeluh tentang panasnya jogja (sumber : lini masa berbagai social media). Tetapi Setelah merasakan perantauan ini saya tak pernah lagi merasakan panasnya jogja ketika mudik, tak lebay tapi memang itu kenyataannya tak sedikitpun peluh ini menetes ketika kembali ke pangkuan tanah kelahiran. Bahkan ada satu cuaca yang tak kutemukan di saat ada di perantauan. Bediding, entah benar atau salah tapi begitulah aku menyebutnya di mana waktu siang terasa cukup panas dan di malam hari dingin bukan main karena angin (bukan karena hujan).  Kerinduan akan kampung halaman sebenarnya selalu tersimpan bahkan tak bisa kulupakan sedikitpun, keluarga lah yang terutama menjadi pokok kerinduan. Selain itu begadang theng-theng crit (thenguk-thenguk crito/duduk-duduk bercerita) sama teman-teman seperjuangan pendukung PSIM Jogja yang biasanya thongkrongan di depan KR serta menjajah kuliner wengi (malam hari) turut berperan aktif dalam membangkitkan panji-panji “kangen jogja” begitulah sekilas kehidupan malamku sewaktu masih di jogja sekitar 2009 lalu.

Tugu Jogja Image

Taken From Sowanjogja

Kehidupan malam itu identik dengan kehidupan yang berbau glamour di tempat remang-remang kerlap-kerlip dan dentuman musik yang membahenol.. kabarnya disitu pula dapat menikmati butiran-butiran pasir setan serta wanginya air iblis… tapi aku tak seperti itu, kehidupan malamku bukan di tempat itu… seperti yang disebutkan diatas saya lebih suka menghabiskan malam dengan theng-theng crit. Angkringan kang Jabrik, Angkringan Lik Man (Kopi Jos), Angkringan Kang Sutar (Wirobrajan), Angkringan texas (Sudagaran), nasi rames pedes ngGejayan, Teh poci Lik Man (Bugisan/SMSR), BNG Net (alm.), Wiro Net (isih ono ra yo?), Blossom Net (aku bocahmu dab) Dan masih banyak yg lain (Liane Lali.. ).

Menikmati malam kota jogja, menjadi seperti candu. Tak ada habisnya dan tak ada bosannya. Namun akhir-akhir ini dahi mengernyit dan miris bila mendengar kabar tentang Jogja. Kriminalitas santer diberitakan di tiap-tiap media massa, memang waktu masih tinggal di jogja kasus kriminalitas juga kerap menjadi bahan berita namun yang belakangan terjadi sudah diluar batas kewajaran. Bahkan sudah menjadi headline di Riau Pos maupun Metro Riau yang sehari-hari menjadi bahan baca berita saya yang artinya kasus ini sudah berada dalam tingkat nasional. Mulai dari Kasus penusukan anggota TNI Sertu Sriyono, Penusukan anggota kopassus Sertu Heru Santoso, Penyerbuan di Lapas Cebongan, tak habis disitu masih juga ada perampokan pegadaian dengan derita kerugian sekitar 6M.

Ahhh… entah kapan lagi aku bisa pulang bertemu keluarga, temans serta semilir angin malam jogja. Semoga kasus-kasus diatas bisa segera dituntaskan dan kembali Jogja menghadirkan suasana ramah bagi para tamu dan perantaunya seperti alunan lagu Yogyakarta – KLA Project.

Jogja Never Ending Asia.