Monthly Archives: March 2013

Kuliner 6.3

Kehidupan orang-seorang pasti berlainan, hanya saja setiap orang pasti membutuhkan hiburan. Salah satu hiburan nya adalah nongkrong di tempat kuliner. Kuliner saat ini bukan hanya tempat untuk ngisi perut semata tapi banyak yang sudah menyusupkan unsur lifestyle dalam kajian kulinernya. Makanan yang lezat, nikmat, dan cita rasa memang menjadi modal utama dalam bisnis ini tapi pasti ada unsur pendukung lain yang nantinya juga bisa sebagai penarik minat pemuja kuliner.

Kuliner yang mengutamakan citarasa biasanya mengesampingkan faktor pendukung tersebut, Sebut saja Gudeg Pawon (Janturan, Yogyakarta) yang pembelinya bisa langsung pesan makanan di dapur, Angkringan Sate (Blimbingsari,Yogyakarta) yang lesehan dengan tikar seadanya penuh mahasiswa, Gulai tapah Muara Basung (Duri, Riau) dan Sop Kaki kambing Pak Kumis (Pekanbaru) dari tempat kuliner di atas tidak memiliki infrastruktur  yang mewah dan lengkap untuk duduk menikmati, tetapi masih menjunjung cita rasa yang disuguhkan setiap harinya sehingga pengunjung pun tetap hilir mudik berdatangan mencicipi masakannya tentunya sebelum pulang bayar dulu.

Sebaliknya ada tempat kuliner yang masakannya biasa-biasa saja tetapi menambah nilai plus dari sisi fasilitas dan pendukungnya, seperti ditambah dengan LCD projector untuk nonton bareng, lokasi berada di lantai atas dengan view kota sekitar, kolam luas dan pemandangan yang asri , sampai kepada desain interior dan keunikannya.

Lantas apa maksud Kuliner 6.3?

Logo ISO

Taken From iso.org

6.3 disini bukan berarti versi kuliner terbaru tetapi 6.3 ini saya ambil dari salah satu klausul ISO 9001:2008, dimana ISO 9001 ini mengatur tentang Sistem Manajemen Mutu sebuah organisasi. Untuk mencapai organisasi yang bermutu maka dibutuhkan pemenuhan persyaratan dan salah satu persyaratan dalam point 6.3 adalah Infrastruktur, berikut cuplikannya :

6.3 Infrastruktur

Organisasi harus menetapkan, menyediakan dan memelihara infrastruktur yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian dengan persyaratan produk. Infrastruktur termasuk, jika diterapkan :

a.      Bangunan, ruang kerja, dan utilitas terkait.

b.      Peralatan Proses (baik perangkat keras, dan perangkat lunak) dan,

c.       Layanan pendukung (seperti transport dan komunikasi atau sistem informasi)

 

Hubungannya?

Sudah sewajarnya dan lazim tempat kuliner memiliki tempat untuk menggelar dagangannya, tetapi bagaimana dengan utilitas terkait dan layanan pendukungnya?.

Sewaktu kita datang tentunya membutuhkan tempat parkir baik parkir motor maupun parkir mobil. Demikian ketika makanan sudah dihadapan yang kita butuhkan biasanya saos, kecap, sambal. Lain halnya setelah selesai makan kita butuh tissue, tusuk gigi, wastafel. Bahkan di luar itu kita terkadang juga membutuhkan toilet.

 Untuk saos, kecap, sambal, tissue, tusuk gigi cara penyajian dari beberapa tempat pun lain-lain ada yang memang sudah di sediakan di masing-masing meja. Tetapi ada juga yang mejanya bersih namun diberikan bersama dengan menyajikan makanannya. Satu catatan di kopioey warung nya pak Bondan Winarno memadukan kedua hal tersebut, dimana ada sebagian meja yang sudah berisi lengkap kebutuhan tersebut dan ada meja yang kosong/bersih. Mungkin dimaksudkan tidak setiap orang datang untuk makan karena salah satu konsepnya adalah tempat minum kopi :). Lain halnya di Local Pantry (Pekanbaru) Meja bersih dan sarana pendukung di hidangkan bersama makanan yang datang. (NO-ADV)

 

Pengalaman “Nggak enak” terkait dengan kuliner 6.3 yang saya alami:

makan di foodcourt sebuah mall yang cukup terkenal. Tempatnya bersih begitu juga dengan mejanya. Setelah masakan datang saya butuh kecap, namun nihil kala melihat begitu bersihnya meja, sehingga memutuskan untuk memanggil pelayan dan minta untuk diberikan kecap. Karena lama makanya sekalian aja sambil makan dan alhasil tinggal beberapa suap lagi makanan habis kecap pun baru datang… :)

Makan di ayam goreng, karena makannya pakai tangan makanya setelah selesai seriously need wastafel, setelah sampai di wastafel ternyata ohh my god dasarnya transparan karena pakai kaca, jadilah sisa-sisa makanannya entah siapa terlihat , tempat bayar di kasir juga non-AC pakai Kipas dan tempatnya gak kecil jadilah agak-agak bau lembab, dari dua kejadian ini bikin lumayan ilfeel… :)

Tempat jualan steak yang identik dengan warna kuning-hitam, dinding keluar masuk pantry kebetulan berwarna kuning dan jelas terlihat bercak-bercak lima jari yang entah sudah berapa ribu jari yang menempel di dinding itu. Terihat bahwa tidak ada jadwal perawatan dinding. Tapi sekarang udah di cat baru pakai warna item (mungkin biar ga keliatan yak) tapi ga tau kalo di cabang lain :)…

Begitulah pengalaman kuliner 6.3 yang telah saya alami mungkin masih banyak lagi tapi gak mungkin untuk dijabarkan semuanya disini. Memang lain pengusaha lain juga trik bisnisnya. tetapi alangkah bagusnya bila hal seperti ini juga patut dipertimbangkan karena berkaitan langsung dengan kepuasan pelanggan. Atau mungkin sang pemilik sebenarnya sudah menerapkan standar pelayanan yang bagus, tetapi karena miskin pengawasan kepada pelayan menjadikan pelayanan kurang maksimal.

Bagaimana dengan pengalaman kuliner 6.3 anda?

Penjual Peyek

Malam itu sedang asyiknya makan malam di salah satu warung pojokan Sudirman Pekanbaru, beberapa saat setelah pesan makan dan minum. Mata ini tertuju pada salah satu bapak-bapak yang tiba-tiba hadir di warung tersebut, bapak itu bukan seorang penikmat kuliner tapi seorang penjaja Peyek. Berjualan keliling dari warung ke warung di pundaknya bertengger toples besar transparan berisikan peyek yang pada saat itu sudah setengah terisi yang berarti menandakan bahwa dagangannya cukup laku. Langkah gontai dan kulit lusuh mensiratkan bahwa tubuhnya sudah sekian lama diajak berkeliling-keliling kota.

Tertarik oleh tumpukan peyek yang ada dalam toples itu, kusiapkan selembar uang limaribuan, cukup lusuh tapi masih laku untuk transaksi jual beli. “Dapat lima” pikirku sebelum menghampiri Bapak penjual peyek. Bangkit dari dudukku menghampirinya kusapa sekaligus bertanya,

“satunya berapa pak?”,  tanyaku.

“Dua Ribu”, jawab bapak itu dengan tegas.

Setdahhh… koh mahal ya? Biasanya sih seribu rupiah. Akhirnya kuraih dompet dan kucatut tambahan uang seribu rupiah. “Beli tiga, Pak” sambil kusodorkan uang enam ribu rupiah. Setelah kembali ke tempat duduk ku, baru ku amati bapak penjual peyek yang silih berganti didatangi konsumen.

Hasil pengamatan:

  1. Harga cukup mahal, standarnya peyek dengan rasa dan bentuk seperti itu dijual seribu rupiah.
  2. Bapak itu harus berkeliling dari warung ke warung jalan kaki.

Sedikit menyimpulkan Mungkin bapak itu menjual dengan harga yang lebih mahal karena dia harus membawa peyek tersebut, berjalan dari warung ke warung bukanlah urusan yang mudah. Badan capek belum lagi harus menawarkan kepada calon pembeli. Bahkan keesokan harinya saya masih melihat bapak itu keliling menjajakan peyeknya dimana artinya fulltime jualan dari pagi sampai malem keliling door to door nawarin peyek.

Dari kejadian itu saya melihat sebuah ketidak efektifan dalam berjualan, dalam pandangan saya akan lebih bagus bila memiliki beberapa toples berisi peyek yang nantinya dititipkan di warung-warung. Pagi diantar, sore diambil sekaligus di rekap hasil penjualannya. Dengan resiko berbagi keuntungan dengan warung yang dititipi, yang artinya ada kemungkinan penghasilan menurun. Tetapi  bisa diantisipasi dengan menambah jumlah warung yang dititip.

AHHHH… tapi paragraf diatas kan cuman lamunanku, lamunan karena terlalu banyak baca buku pengusaha sukses, tapi tanpa pernah mempraktekkannya. Diluar bagaimana cara berjualannya saya salut sama bapak itu yang sanggup  berkeliling kota untuk mencari nafkah, mungkin bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk keluarganya. Memiliki modal keberanian untuk berdagang seperti itu patut diacungi jempol, berbeda dengan saya yang sampai sai ini masih saja berkutat sebagai Karyawan.

Bagaimana dengan anda?

 

Blunder

Blunder, biasanya sih dikaitkan dengan kesalahan diri sendiri. Kata ini sering kali digunakan dalam pertandingan sepakbola, untuk menyebut kesalahan yang dilakukan pemain sehingga menjadi penyebab terjadinya gol. Banyak kasus blunder dilakukan oleh kiper tetapi berbeda dengan pertandingan pagi tadi antara Manchester United Versus Real Madrid dalam Liga Champion, yang disiarkan oleh SCTV langsung dari Stadion Old Trafford, yang berakhir dengan kemenangan Real madrid 1-2 dengan hasil tersebut Real Madrid lolos ke babak selanjutnya dengan agregat 2-3.

Blunder pertama

Dilakukan oleh Sergio Ramos, saat akan menghalau bola tendangan Nani di depan gawang namun salah antisipasi sehingga bola malahan masuk ke gawang sendiri. Kesalahan yang cukup fatal karena berujung memberikan keuntungan untuk tim lawan.

Blunder kedua

Ketika Nani dan pemain Real Madrid sama-sama memperebutkan bola liar, pemain Real Madrid datang dari belakang ketika Nani mengangkat kaki, bila dilihat memang sepertinya bukan murni kesalahan Nani namun kaki yang menghunjam perut sepertinya menjadikan alasan wasit untuk memberikan kartu merah. Bermain dengan 10 pemain membuat Manchester United kocar-kacir dan akhirnya kebobolan dua gol. Ternyata blunder kedua ini lebih fatal dari blunder pertama.

Blunder siapa

Jadi siapa yang melakukan blunder ini? Apakah Nani yang bermain kurang perhitungan ataukah wasit yang seharusnya tidak memberikan kartu merah.  Karena bagi saya pertandingan tadi lebih banyak ditentukan oleh blunder.  Dan mungkin akan menyisakan kontroversi.

#Walaupun di dalam permainan sepak bola banyak kasus blunder, tapi jangan menyebut bola itu blunder, karena seperti yang kita lihat bahwa sebenarnya bola itu bulat..  (Nge-junk)

Hidup Adalah Pilihan

B

eberapa waktu lalu sudah senyum-senyum liat pegawai SPBU yang nggak nggenah, sekarang giliran saya sendiri yang sebel. Bukan sebel sama pegawai SPBU tapi saya sebel sama Tukang Parkir. Masih teringat dalam ingatan beberapa waktu lalau ada seorang tukang parkir yang begitu rajinnya dalam mengais rejeki, Bahkan saat saya akan memarkir motor tiba2 bapak  bilang “Biarkan disitu saja pak, gak usah di kunci stang. Biar nanti saya atur” begitu juga saat akan mengambil motor bapak itu kembali bilang “Yang mana motornya biar saya ambilkan” dan tinggal bayar kita sudah diberi fullservice.

Tetapi pemandangan diatas berbeda dengan yang beberapa waktu lalu saya temui, seorang tukang parkir masih muda, sewaktu saya masuk ke tempat parkir dia sudah duduk di atas jok salah satu motor, dan begitu melihat saya dia hanya memberikan aba2 dari atas motos sambil bilang stop (dalam arti parkir disitu saja). kemudian setelah saya keluar saya kasih uang parkir, dia berdiri dan hanya melihat dari kejauhan. :)

Lain lagi sewaktu beli pecel lele, Istri turun buat beli pecel lele, karena dibungkus makanya saya gak turun dari motor dan milih menunggu di samping tenda, ehhhh giliran mau cabut tiba2 ada tukang parkir minta uang parkir. Haduuhh ….

Terlebih lagi kalau parkir mobil (pinggir jalan) sewaktu saya parkir tidak nampak satu pun tukang parkir disitu, begitu juga saat keluar. Cari-cari tukang parkir sambil sesekali klakson tak juga nampak batang hidungnya, kupikir memang tak ada tukang parkirnya. Memundurkan mobil tanpa ada aba-aba susah payah monitor kanan-kiri. Ehh giliran udah jalan pelan tiba2 ada suara priiitttt..priiittt.. priiiiittt. Bukan polisi, tapi seragam rompi oranye yang sudah mudar menjadi kuning. Haduuuhhhh…. Kemana aja bangggg…… Biasanya kalau udah kayak gitu niat banget buat iseng uang parkir gak langsung dikasih tapi majuin mobil dulu agak jauh baru deh uang parkir nongol ke jendela :)

Kalau mau komplein toh juga harganya tak seberapa, tapi kalu gak di komplein kok ya terlalu… Dan mereka juga gak pakai karcis sehingga ada kemungkinan juga gak bayar pajak ke negara..

Apa Artinya ??Jalan mana yang akan dipilih itu semua tergantung dari diri kita karena Hidup adalah pilihan,